Want to create interactive content? It’s easy in Genially!

Reuse this genially

Within-Group Design

Yustina S

Created on October 1, 2024

Start designing with a free template

Discover more than 1500 professional designs like these:

Vaporwave presentation

Animated Sketch Presentation

Memories Presentation

Pechakucha Presentation

Decades Presentation

Color and Shapes Presentation

Historical Presentation

Transcript

Desain Penelitian Kuantitatif: Within-Group Design

Yustina Safitri

START

Within-Group Design

Memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi perubahan perilaku dan hasil dalam kelompok yang sama. Dalam sebuah eksperimen di mana jumlah subjek yang tersedia mungkin terbatas, sehingga tidak memungkinkan melibatkan lebih dari satu kelompok, peneliti dapat memfokuskan kajian pada satu kelompok dengan menerapkan desain within-group

Within-Group Design

Single-Group Design

Repeated-Measures Design

Single-Case Design

Time-Series Design

+ info

+ info

+ info

+ info

Single-Group Design

Definisi

Tujuan

One-Shot Case Study

One-Group Pretest-Posttest

+ info

Single-Case Design

Definisi

Tujuan

A-B Design

A-B-A Design

+ info

Multiple-Baseline Design

Time-Series Design

Definisi

Tujuan

Interrupted Time-Series Design

Equivalent Time-Series Design

+ info

Repeated-Measures Design

Definisi

Tujuan

Contoh

Kelebihan & Kekurangan

+ info

Eureka!

Thanks!

desain paling sederhana dari single-case design, memuat dua fase utama:

A-B Design

a. Fase A (baseline), pada fase ini, perilaku subjek diukur tanpa adanya intervensi. Data yang dikumpulkan selama fase ini berfungsi sebagai titik acuan untuk memahami kondisi awal perilaku. b. Fase B (intervensi), pada fase ini, intervensi diterapkan, dan pengukuran perilaku subjek dilakukan lagi. Tujuan dari fase ini adalah untuk menilai perubahan yang terjadi sebagai hasil dari intervensi.

Kelebihan

Kekurangan

Repeated-Measures Design

Peneliti menentukan intervensi eksperimental yang berbeda untuk menentukan efek dari masing-masing perlakuan terhadap satu atau beberapa hasil. Variasi dalam ukuran hasil kemudian dinilai untuk mengetahui perbedaan dari satu perlakuan ke perlakuan lainnya.

Misalnya, dalam eksperimen dengan tiga intervensi. • Subjek 1 menerima intervensi 1, diikuti oleh intervensi 2, diikuti oleh intervensi 3. • Subjek 2 menerima intervensi 2, diikuti oleh intervensi 3, diikuti oleh intervensi 1. • Subjek 3 menerima intervensi 3, diikuti dengan intervensi 1, diikuti dengan intervensi 2. • Subjek 4 menerima intervensi 1, diikuti dengan intervensi 3, diikuti dengan intervensi 2. • Subjek 5 menerima intervensi 2, diikuti dengan intervensi 1, diikuti dengan intervensi 3. • Subjek 6 menerima intervensi 3, diikuti dengan intervensi 2, diikuti dengan intervensi 1.

Desain A-B-A mengikuti langkah yang sama dengan desain A-B, tetapi dengan penambahan kondisi baseline kedua.

A-B-A Design

a. Fase A (baseline), pada fase ini, perilaku subjek diukur tanpa intervensi, berfungsi sebagai acuan untuk memahami kondisi awal perilaku. b. Fase B (Intervensi), pada fase ini, intervensi diterapkan, dan pengukuran perilaku subjek dilakukan untuk melihat dampak dari intervensi tersebut. c. Fase A (kembali ke baseline), pada fase ini, intervensi dihentikan dan perilaku subjek diukur kembali untuk melihat apakah perilaku kembali ke kondisi awal. Fase ini penting untuk menilai apakah perubahan yang terjadi akibat intervensi bersifat permanen atau sementara.

Kelebihan

Kekurangan

Single-case design, melibatkan pengamatan berulang terhadap satu individu. Individu dalam desain ini menjadi kontrol eksperimental mereka sendiri.

Sistem notasi yaitu “A” menunjukkan perilaku dasar yang dilakukan oleh subjek tanpa intervensi (baseline phase) dan “B” yang mewakili perilaku subjek di bawah kondisi intervensi (intervention phase).

sebuah kelompok tunggal diberikan pretest, kemudian diberikan intervensi eksperimental, dan kemudian diberikan posttest. Pendekatan ini membantu membandingkan kondisi sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok yang sama.

One-Group Pretest-Posttest

Kelebihan

  • Sederhana
  • Pengukuran perubahan secara langsung

Kekurangan

  • Validitas internal rendah
  • Tidak ada kontrol pada faktor luar
  • Generalisasi terbatas

Tujuan Single-Case Design

Mengamati perilaku individu baik secara terpisah maupun dalam kelompok.

Efektif digunakan dalam analisis perilaku, intervensi dukungan perilaku positif, pendidikan khusus, serta bidang-bidang lain yang sejenis, karena dapat menggunakan sampel yang kecil tetapi tetap memberikan hasil yang baik, sehingga intervensi yang dilakukan dapat mempengaruhi hasil secara signifikan.

Kelebihan

  • Tidak terpengaruh oleh ancaman yang berhubungan dengan perbandingan antar kelompok, seperti seleksi, perlakuan, regresi, mortalitas, atau pematangan.
  • Mengizinkan pengukuran yang lebih mendetail pada individu yang sama, memberikan informasi yang lebih baik tentang respons terhadap perlakuan yang berbeda.

Kekurangan

  • Peristiwa eksternal dapat terjadi selama eksperimen yang dapat memengaruhi hasil, sehingga sulit untuk mengisolasi efek perlakuan.
  • Perlakuan satu mungkin memengaruhi hasil dari perlakuan berikutnya, sehingga peneliti harus berusaha untuk membuat setiap perlakuan semenarik mungkin.

Time series design adalah metode penelitian yang melibatkan pengamatan dan pengukuran berulang terhadap satu kelompok individu dalam periode tertentu.

Pengaruh perlakuan diukur melalui beberapa pengukuran yang dilakukan pada interval waktu yang tetap, baik sebelum maupun setelah perlakuan diberikan.

Dalam desain ini, setelah satu fase intervensi, peneliti melakukan pengukuran, kemudian kembali ke intervensi lagi, dan seterusnya. Tujuannya adalah untuk membandingkan hasil dari masing-masing fase intervensi.

Equivalent Time-Series Design

Kelebihan

Kekurangan

Tujuan Repeated-Measures Design

Mengevaluasi efek dari berbagai perlakuan eksperimen pada satu atau lebih hasil dengan menggunakan satu kelompok peserta.

Hal ini memungkinkan peneliti untuk mendapatkan wawasan yang lebih mendalam tentang bagaimana berbagai perlakuan memengaruhi hasil yang diamati

Single-Group design adalah desain eksperimental di mana hanya satu kelompok partisipan yang digunakan untuk menerima perlakuan, tanpa adanya kelompok kontrol untuk membandingkan hasilnya.

Multiple-Baseline Design

intervensi diterapkan secara bergantian pada beberapa subjek atau dalam beberapa kondisi, tetapi pada waktu yang berbeda.

a. Data baseline dikumpulkan secara bersamaan untuk beberapa subjek. b. Intervensi diterapkan pada satu subjek pada satu waktu. Intervensi ini kemudian diikuti dengan pengukuran perilaku untuk melihat perubahan yang terjadi. c. Proses ini diulang untuk subjek lainnya secara bergantian. Ini memungkinkan peneliti untuk mengamati dampak intervensi secara lebih mendalam dan mencegah pengaruh eksternal yang mungkin memengaruhi hasil.

Kelebihan

Kekurangan

One-Shot Case Study

perlakuan diberikan kepada kelompok, dan hasilnya diukur hanya setelah perlakuan (posttest), tidak ada pretest.

Kelebihan

  • Sederhana dan mudah dilakukan

Kekurangan

  • Tidak cukup kuat untuk menyimpulkan hubungan sebab-akibat adanya intervensi eksperimental.
  • Rentan terhadap ancaman validitas.

Repeated measures design adalah suatu metode eksperimen di mana semua peserta dalam satu kelompok mengikuti semua perlakuan eksperimen.

Dalam desain ini, setiap kelompok berfungsi sebagai kontrol bagi dirinya sendiri, memungkinkan peneliti untuk membandingkan kinerja kelompok di bawah perlakuan eksperimen yang berbeda.

Tujuan Single-Group Design

Mengukur efek atau dampak dari perlakuan atau intervensi pada satu kelompok partisipan. Peneliti dapat mengevaluasi perubahan yang terjadi dalam kelompok setelah mendapatkan perlakuan tertentu.

pengukuran berulang terhadap satu kelompok dalam periode waktu tertentu, di mana beberapa pengukuran dilakukan sebelum intervensi (pretest) dan beberapa pengukuran dilakukan setelah intervensi (posttest).

Interrupted Time-Series Design

Kelebihan

Kekurangan

Tujuan Time-Series Design

Digunakan untuk menilai perubahan perilaku atau karakteristik dari waktu ke waktu, serta untuk mengevaluasi efek intervensi tertentu.

Time-series design memungkinkan pengamatan terhadap fenomena dan menghindari ketergantungan pada satu titik pengumpulan data sebelum dan setelah tes.