RADEN DEWI SARTIKA
Pengenalan
KELOMPOK 5 : 1, ALFIRA ZALIANTY (02) 2. CAHAYA KIRANI (07) 3. FEBRIYANTI LESTARI (14) 4. JIDDAN MAULANA (17) 5. JIHAN ANLY ZATMIKO (18) 6. RAFAEL BENAYA (31)
Masa Kecil-Remaja
Perjuangan
Keteladanan
Masa Kecil & Remaja Raden Dewi Sartika
Semasa kecilnya Dewi Sartika dihabiskan di Jalan Kepatihan yang terletak di tengah Kota Bandung. Bangunan rumahnya besar, dengan konsep kediaman kaum priyayi. Julukan kaum priyayi diberikan kepada keluarga Dewi Sartika bukan tanpa alasan. Istilah ini sendiri merujuk kepada orang-orang yang bekerja di area kepamongprajaan. Sedari kecil, Dewi Sartika sudah menunjukkan bakat pendidik dan kegigihan untuk meraih kemajuan. Sambil bermain di belakang gedung kepatihan, ia sering memperagakan praktik di sekolah, belajar baca-tulis, dan bahasa Belanda, kepada anak-anak pembantu di kepatihan. Papan bilik kandang kereta, arang, dan pecahan genting dijadikannya alat bantu belajar. Waktu itu, Dewi Sartika baru berumur sekitar sepuluh tahun, ketika Cicalengka digemparkan oleh kemampuan baca-tulis dan beberapa patah kata dalam bahasa Belanda yang ditunjukkan oleh anak-anak pembantu kepatihan. Gempar, karena waktu itu belum ada anak (apalagi anak rakyat jelata) yang memiliki kemampuan seperti itu, dan diajarkan oleh seorang anak perempuan.
Setelah remaja, Dewi Sartika kembali lagi kepada ibunya di Bandung. Jiwanya yang telah dewasa semakin menggiringnya untuk mewujudkan cita-citanya. Hal ini didorong pula oleh pamannya, Bupati Martanagara, yang memang memiliki keinginan yang sama. Tetapi, meski keinginan yang sama dimiliki oleh pamannya, tidak menjadikannya serta merta dapat mewujudkan cita-citanya. Adat yang mengekang kaum wanita pada waktu itu, membuat pamannya mengalami kesulitan dan khawatir. Namun karena kegigihan semangatnya yang tak pernah surut, akhirnya Dewi Sartika bisa meyakinkan pamannya dan diizinkan mendirikan sekolah untuk perempuan.
Keteladanan Raden Dewi Sartika
- Keteladanan Dewi Sartika terlihat dalam dedikasinya untuk meningkatkan akses pendidikan bagi perempuan, dengan mendirikan sekolah pertama untuk wanita di Bandung pada tahun 1904, yang kemudian dikenal sebagai Sekolah Isteri Dewi Sartika. Upaya pendidikan tersebut menjadi tonggak penting dalam gerakan pendidikan perempuan di Indonesia.
- Raden Dewi Sartika merupakan lulusan pertama sekolah tersebut pada tahun 1909 dan lulusan tersebut membuktikan kepada bangsa kita bahwa wanita memiliki kemampuan yang tidak ada bedanya dengan laki-laki.
- Selain itu Raden Dewi Sartika juga memiliki rasa empati yang tinggi karena raden Dewi Sartika pada saat itu membantu dan membela para perempuan yang ditindas karena mereka masih berpikir bahwa wanita adalah individu yang lemah.
Raden Dewi Sartika Ketika Mendirikan Sekolah Istri
Dewi Sartika membuka Sakola Istri pada 16 Januari 1904 setelah berkonsultasi dengan Bupati R.A Martanegara. Dibantu oleh saudaranya, ia mengajar 20 murid perempuan di pendopo Kabupaten Bandung. Karena semakin diminati, ia membangun sekolah sendiri di Jalan Ciguriang, Kebon Cau pada 1905. Dewi Sartika juga memperbaiki sekolah tersebut dengan uang pribadi pada tahun-tahun berikutnya. Keberhasilannya menarik minat pemimpin daerah lain, sehingga sekolah perempuan juga bermunculan di wilayah lain. Pada tahun 1912, ada 9 sekolah perempuan di Pasundan, dan pada 1920, sudah ada di seluruh wilayah Pasundan. Sekolah perempuan Dewi Sartika menghentikan operasi selama Perang Dunia I dan berhenti beroperasi lagi saat Bandung diduduki Belanda.
Raden Dewi Sartika
Dewi Sartika kemudian mengungsi ke Tasikmalaya dan wafat pada 11 September 1947. Pahlawan nasional itu dimakamkan dalam sebuah upacara pemakaman sederhana di Pemakaman Cigagadon, Desa Rahayu, Kecamatan Cineam, Tasikmalaya. Saat ini perjuangannya menciptakan kesetaraan dalam pendidikan mulai membuahkan hasil.
Raden Dewi Sartika
Di antara banyaknya pahlawan perempuan, nama Raden Dewi Sartika tentu tak boleh dilewatkan. Jasanya bagi perjuangan perempuan sejak zaman penjajahan Belanda masih bisa dirasakan hingga kini.
Raden Dewi Sartika sendiri adalah satu dari deretan Pahlawan Nasional Indonesia dari Jawa Barat. Satu perjuangan yang terus dikenang adalah kegigihannya dalam membangun sekolah untuk perempuan dari kalangan bawah. Dewi Sartika lahir pada tanggal 4 Desember 1884 di Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Dia adalah anak dari pasangan Raden Achmad Suryana Ningrat dan Raden Ajeng Kartini. Setelah menikah dengan Raden Sosrokusumo, seorang pegawai Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), mereka pindah ke Cianjur. Dewi Sartika sangat peduli dengan pendidikan dan kesetaraan gender. Pada tahun 1904, ia mendirikan Sekolah Isteri Jonge Melajoe (Sekolah Kartini), sekolah pertama untuk wanita di Hindia Belanda. Tujuannya adalah memberikan pendidikan kepada perempuan agar mereka memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki.
TUGAS BIOGRAFI DEWI SARTIKA
Alfira zalianty
Created on March 5, 2024
Start designing with a free template
Discover more than 1500 professional designs like these:
View
Advent Calendar
View
Tree of Wishes
View
Witchcraft vertical Infographic
View
Halloween Horizontal Infographic
View
Halloween Infographic
View
Halloween List 3D
View
Magic and Sorcery List
Explore all templates
Transcript
RADEN DEWI SARTIKA
Pengenalan
KELOMPOK 5 : 1, ALFIRA ZALIANTY (02) 2. CAHAYA KIRANI (07) 3. FEBRIYANTI LESTARI (14) 4. JIDDAN MAULANA (17) 5. JIHAN ANLY ZATMIKO (18) 6. RAFAEL BENAYA (31)
Masa Kecil-Remaja
Perjuangan
Keteladanan
Masa Kecil & Remaja Raden Dewi Sartika
Semasa kecilnya Dewi Sartika dihabiskan di Jalan Kepatihan yang terletak di tengah Kota Bandung. Bangunan rumahnya besar, dengan konsep kediaman kaum priyayi. Julukan kaum priyayi diberikan kepada keluarga Dewi Sartika bukan tanpa alasan. Istilah ini sendiri merujuk kepada orang-orang yang bekerja di area kepamongprajaan. Sedari kecil, Dewi Sartika sudah menunjukkan bakat pendidik dan kegigihan untuk meraih kemajuan. Sambil bermain di belakang gedung kepatihan, ia sering memperagakan praktik di sekolah, belajar baca-tulis, dan bahasa Belanda, kepada anak-anak pembantu di kepatihan. Papan bilik kandang kereta, arang, dan pecahan genting dijadikannya alat bantu belajar. Waktu itu, Dewi Sartika baru berumur sekitar sepuluh tahun, ketika Cicalengka digemparkan oleh kemampuan baca-tulis dan beberapa patah kata dalam bahasa Belanda yang ditunjukkan oleh anak-anak pembantu kepatihan. Gempar, karena waktu itu belum ada anak (apalagi anak rakyat jelata) yang memiliki kemampuan seperti itu, dan diajarkan oleh seorang anak perempuan.
Setelah remaja, Dewi Sartika kembali lagi kepada ibunya di Bandung. Jiwanya yang telah dewasa semakin menggiringnya untuk mewujudkan cita-citanya. Hal ini didorong pula oleh pamannya, Bupati Martanagara, yang memang memiliki keinginan yang sama. Tetapi, meski keinginan yang sama dimiliki oleh pamannya, tidak menjadikannya serta merta dapat mewujudkan cita-citanya. Adat yang mengekang kaum wanita pada waktu itu, membuat pamannya mengalami kesulitan dan khawatir. Namun karena kegigihan semangatnya yang tak pernah surut, akhirnya Dewi Sartika bisa meyakinkan pamannya dan diizinkan mendirikan sekolah untuk perempuan.
Keteladanan Raden Dewi Sartika
Raden Dewi Sartika Ketika Mendirikan Sekolah Istri
Dewi Sartika membuka Sakola Istri pada 16 Januari 1904 setelah berkonsultasi dengan Bupati R.A Martanegara. Dibantu oleh saudaranya, ia mengajar 20 murid perempuan di pendopo Kabupaten Bandung. Karena semakin diminati, ia membangun sekolah sendiri di Jalan Ciguriang, Kebon Cau pada 1905. Dewi Sartika juga memperbaiki sekolah tersebut dengan uang pribadi pada tahun-tahun berikutnya. Keberhasilannya menarik minat pemimpin daerah lain, sehingga sekolah perempuan juga bermunculan di wilayah lain. Pada tahun 1912, ada 9 sekolah perempuan di Pasundan, dan pada 1920, sudah ada di seluruh wilayah Pasundan. Sekolah perempuan Dewi Sartika menghentikan operasi selama Perang Dunia I dan berhenti beroperasi lagi saat Bandung diduduki Belanda.
Raden Dewi Sartika
Dewi Sartika kemudian mengungsi ke Tasikmalaya dan wafat pada 11 September 1947. Pahlawan nasional itu dimakamkan dalam sebuah upacara pemakaman sederhana di Pemakaman Cigagadon, Desa Rahayu, Kecamatan Cineam, Tasikmalaya. Saat ini perjuangannya menciptakan kesetaraan dalam pendidikan mulai membuahkan hasil.
Raden Dewi Sartika
Di antara banyaknya pahlawan perempuan, nama Raden Dewi Sartika tentu tak boleh dilewatkan. Jasanya bagi perjuangan perempuan sejak zaman penjajahan Belanda masih bisa dirasakan hingga kini. Raden Dewi Sartika sendiri adalah satu dari deretan Pahlawan Nasional Indonesia dari Jawa Barat. Satu perjuangan yang terus dikenang adalah kegigihannya dalam membangun sekolah untuk perempuan dari kalangan bawah. Dewi Sartika lahir pada tanggal 4 Desember 1884 di Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Dia adalah anak dari pasangan Raden Achmad Suryana Ningrat dan Raden Ajeng Kartini. Setelah menikah dengan Raden Sosrokusumo, seorang pegawai Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), mereka pindah ke Cianjur. Dewi Sartika sangat peduli dengan pendidikan dan kesetaraan gender. Pada tahun 1904, ia mendirikan Sekolah Isteri Jonge Melajoe (Sekolah Kartini), sekolah pertama untuk wanita di Hindia Belanda. Tujuannya adalah memberikan pendidikan kepada perempuan agar mereka memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki.