Kartini
Ibu
19 September 1904
21 April 1879.
Biografi by. Chika Raissya. C . P
Struktur
Orentasi
Masalah dan Riwayat Hidup
Reorentasi
Penutup
Raden Adjeng Kartini
Orientasi
Kartini lahir dari keluarga bangsawan pada 21 April 1879, di desa Mayong, Jawa Tengah. Ibu Kartini, Ngasirah, adalah putri seorang ulama. Ayahnya Sosroningrat, adalah seorang bangsawan Jawa yang bekerja untuk pemerintah kolonial belanda sebagai gubernur kabupaten Jepara. Ini memberi Kartini kesempatan untuk bersekolah di sekolah belanda, pada usia 6 tahun. Sekolah itu membuka matanya pada cita cita barat, Kartini juga fasih berbahasa Belanda. Kartini juga Mengambil pelajaran menjahit dari istri bupati lain, Ibu Marie Ovink-Soer adalah seorang sosialis dan feminis yang berdedikasi, ia menyampaikan pandangan feminisnya ke Kartini, dan karena itu yang membangkitkan jiwa aktivitisme Kartini di kemudian hari.
Dididik di Sekolah Belanda
Sejak kecil, Kartini sangat aktif bermain dan suka memanjat pohon. Dia mendapatkan julukan ''Burung Kecil'' karena terus menerus melayang layang. Seorang pria dengan sikap modern, ayahnya mengizinkannya bersekolah di sekolah dasar Belanda bersama saudara saudaranya. Belanda telah menjajah Jawa dan mendirikan sekolah sekolah yang terbuka hanya untuk orang Eropa dan putra putra Jawa yang yang kaya. Karna keluarga yang mumpuni dan kecenderungan intelektualnya, Kartini menjadi salah satu wanita pribumi pertama yang diizinkan belajar membaca dan menulis dalam bahasa Belanda. Terlepas dari izin ayahnya untuk memberinya pendidikan dasar, menurut adat Islam dan tradisi jawa yang dikenal sebagai pingit, semua gadis termasuk Kartini terpaksa meningalkan sekolah pada usia 12 tahun dan tinggal di rumah untuk belajar keterampilan mengurus rumah, pada titik ini kartini harus menungu seorang pria untuk menimangnya. Disaat Kartini yang masuk kelas atas pun tidak bisa menyelamatkan dirinya dari tradisi diskrikiminasi terhadap perempuan ini, yaitu pernikahan dini. Bagi Kartini, satu satunya jalan keluar dari gaya hidup tradisional ini adalah menjadi perempuan mandiri.
Berjuang untuk berdasarkan dengan isolasi, Kartini menulis surat kepada Ovink Soer dan teman Belandanya, memprotes ketidaksetaraan dalam tradisi Jawa seperti kawin paksa di usia muda, yang menghalangi kebebasan perempuan untuk mengeyam pendidikan. Ironisnya, saat Kartini ingin melepaskan diri dari belengu itu, Kartini mendapat lamaran pernikahan yang dijodohkan oleh ayahnya. Pada tanggal 8 November 1903, ia menikah dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat. Joyodiningrat yang saat itu berusia 26 tahun lebih tua dari Kartini, dan sudah memiliki tiga istri dan 12 anak. Padahal Kartini barusaja ditawari beasiswa untuk belajar di luar negeri, dan pernikahan itu memupus harapannya untuk harapannya untuk menerimanya. Kartini saat itu sudah berusia 24 tahun, sudah terlalu tua untuk menikah secara baik. Kartini pun menjadi korban poligami. Berniat menyebarkan pesan feminisnya, dengan persetujuan suami barunya, Kartini segera merencanakan untuk memulai sekolahnya sendiri untuk anak perempuan Jawa. Dengan bantuan dari pemerintah Belanda, pada tahun 1903 ia membuka sekolah dasar pertama di indonesia untuk gadis pribumi yang tidak membeda bedakan status sosial mereke, Sekolah ittu didirikan didalam rumah ayahnya, dan mengajarkan anak perempuan kurikulum progresif berbasis barat. Bagi Kartini, pendidikan ideal bagi seorang remaja putri mendorong pemberdayaan dan pencerahan. Dia juga mempromosikan pentingnya pendidikan seumur hidup mereka. Untuk itu, Kartini secara teratur berkorespondensi dengan feminis stella Zeehandelaar serta banyak pejabat belanda dengan wewenang untuk memajukan emansipasi perempuan Jawa dari hukum dan tradisi yang menindas. Dari surat suratnya juga mengungapkan keresahannya dengan nasionalis Jawanya. Kartini saat itu juga menerbitkan Makalah dengan judul "Ajarkan Orang Jawa"
"Kematian Dan Peningalannya "
Pada 17 September 1904, Dalam usia 25 tahun, Kartini meninggal di kabupaten Rembang, Jawa, akibat komplikasi melahirkan anak pertamanya. tujuh tahun setelah kematiannya salah satu korespondennya, Jacques . H Abendanon, menerbitkan kumpulan surat kartini yang berjudul "Dari Gelap Menuju Terang : Pikiran Tentang Dan Atas Nama Orang Jawa" Di Indonesia Hari Kartini masih diperingati setiap tahun pada ulang tahun kartini di tanggal 21 April
Sekian Terimakasih
ppt kartini
Dump
Created on February 13, 2023
Start designing with a free template
Discover more than 1500 professional designs like these:
View
Essential Dossier
View
Essential One Pager
View
Akihabara Dossier
View
Akihabara Marketing Proposal
View
Akihabara One Pager
View
Corporate Brand Book
View
Color Shapes Dossier
Explore all templates
Transcript
Kartini
Ibu
19 September 1904
21 April 1879.
Biografi by. Chika Raissya. C . P
Struktur
Orentasi
Masalah dan Riwayat Hidup
Reorentasi
Penutup
Raden Adjeng Kartini
Orientasi
Kartini lahir dari keluarga bangsawan pada 21 April 1879, di desa Mayong, Jawa Tengah. Ibu Kartini, Ngasirah, adalah putri seorang ulama. Ayahnya Sosroningrat, adalah seorang bangsawan Jawa yang bekerja untuk pemerintah kolonial belanda sebagai gubernur kabupaten Jepara. Ini memberi Kartini kesempatan untuk bersekolah di sekolah belanda, pada usia 6 tahun. Sekolah itu membuka matanya pada cita cita barat, Kartini juga fasih berbahasa Belanda. Kartini juga Mengambil pelajaran menjahit dari istri bupati lain, Ibu Marie Ovink-Soer adalah seorang sosialis dan feminis yang berdedikasi, ia menyampaikan pandangan feminisnya ke Kartini, dan karena itu yang membangkitkan jiwa aktivitisme Kartini di kemudian hari.
Dididik di Sekolah Belanda
Sejak kecil, Kartini sangat aktif bermain dan suka memanjat pohon. Dia mendapatkan julukan ''Burung Kecil'' karena terus menerus melayang layang. Seorang pria dengan sikap modern, ayahnya mengizinkannya bersekolah di sekolah dasar Belanda bersama saudara saudaranya. Belanda telah menjajah Jawa dan mendirikan sekolah sekolah yang terbuka hanya untuk orang Eropa dan putra putra Jawa yang yang kaya. Karna keluarga yang mumpuni dan kecenderungan intelektualnya, Kartini menjadi salah satu wanita pribumi pertama yang diizinkan belajar membaca dan menulis dalam bahasa Belanda. Terlepas dari izin ayahnya untuk memberinya pendidikan dasar, menurut adat Islam dan tradisi jawa yang dikenal sebagai pingit, semua gadis termasuk Kartini terpaksa meningalkan sekolah pada usia 12 tahun dan tinggal di rumah untuk belajar keterampilan mengurus rumah, pada titik ini kartini harus menungu seorang pria untuk menimangnya. Disaat Kartini yang masuk kelas atas pun tidak bisa menyelamatkan dirinya dari tradisi diskrikiminasi terhadap perempuan ini, yaitu pernikahan dini. Bagi Kartini, satu satunya jalan keluar dari gaya hidup tradisional ini adalah menjadi perempuan mandiri.
Berjuang untuk berdasarkan dengan isolasi, Kartini menulis surat kepada Ovink Soer dan teman Belandanya, memprotes ketidaksetaraan dalam tradisi Jawa seperti kawin paksa di usia muda, yang menghalangi kebebasan perempuan untuk mengeyam pendidikan. Ironisnya, saat Kartini ingin melepaskan diri dari belengu itu, Kartini mendapat lamaran pernikahan yang dijodohkan oleh ayahnya. Pada tanggal 8 November 1903, ia menikah dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat. Joyodiningrat yang saat itu berusia 26 tahun lebih tua dari Kartini, dan sudah memiliki tiga istri dan 12 anak. Padahal Kartini barusaja ditawari beasiswa untuk belajar di luar negeri, dan pernikahan itu memupus harapannya untuk harapannya untuk menerimanya. Kartini saat itu sudah berusia 24 tahun, sudah terlalu tua untuk menikah secara baik. Kartini pun menjadi korban poligami. Berniat menyebarkan pesan feminisnya, dengan persetujuan suami barunya, Kartini segera merencanakan untuk memulai sekolahnya sendiri untuk anak perempuan Jawa. Dengan bantuan dari pemerintah Belanda, pada tahun 1903 ia membuka sekolah dasar pertama di indonesia untuk gadis pribumi yang tidak membeda bedakan status sosial mereke, Sekolah ittu didirikan didalam rumah ayahnya, dan mengajarkan anak perempuan kurikulum progresif berbasis barat. Bagi Kartini, pendidikan ideal bagi seorang remaja putri mendorong pemberdayaan dan pencerahan. Dia juga mempromosikan pentingnya pendidikan seumur hidup mereka. Untuk itu, Kartini secara teratur berkorespondensi dengan feminis stella Zeehandelaar serta banyak pejabat belanda dengan wewenang untuk memajukan emansipasi perempuan Jawa dari hukum dan tradisi yang menindas. Dari surat suratnya juga mengungapkan keresahannya dengan nasionalis Jawanya. Kartini saat itu juga menerbitkan Makalah dengan judul "Ajarkan Orang Jawa"
"Kematian Dan Peningalannya "
Pada 17 September 1904, Dalam usia 25 tahun, Kartini meninggal di kabupaten Rembang, Jawa, akibat komplikasi melahirkan anak pertamanya. tujuh tahun setelah kematiannya salah satu korespondennya, Jacques . H Abendanon, menerbitkan kumpulan surat kartini yang berjudul "Dari Gelap Menuju Terang : Pikiran Tentang Dan Atas Nama Orang Jawa" Di Indonesia Hari Kartini masih diperingati setiap tahun pada ulang tahun kartini di tanggal 21 April
Sekian Terimakasih