Want to create interactive content? It’s easy in Genially!

Get started free

Aplikasi Instrumen Kelautan untuk Memahami Dinamika Fisika, Kimia, dan

Rohit Febriansah

Created on December 10, 2022

ROHIT FEBRIANSAH_200341100010_A_TUGAS INSTRUMEN KELAUTAN

Start designing with a free template

Discover more than 1500 professional designs like these:

Higher Education Presentation

Psychedelic Presentation

Vaporwave presentation

Geniaflix Presentation

Vintage Mosaic Presentation

Modern Zen Presentation

Newspaper Presentation

Transcript

UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA

Aplikasi Instrumen Kelautan untuk Memahami Dinamika Fisika, Kimia, dan Biologi Laut serta Garam

ROHIT FEBRIANSAH200341100010 ILMU KELAUTAN/A

Model Arus Permukaan Teluk Lampung pada Musim Peralihan II dengan Pendekatan Hidronamika

Dinamika Fisika

Outline

01. Pedahuluan

03. Hasil dan Pembahasan

04. Kesimpulan

02. Metode

01

Pendahuluan

Teluk lampung yang terletak di pulau sumatra bagian selatan dan dipisahkan dari pulau jawa melalui selat sunda yang mempunyai akses langsung dengan perairan lepas dari samudera hindia. hal ini akan berpengaruh terhadap pola sirkulasi arus permukaan yang terbentuk. dapat ditunjukkan dengan adanya kepadatan lalu lintas kapal besar yang mengangkut bahan industri dan keperluan energi serta kapal para nelayan yang beraktivitas di sana.

"Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Phasellus interdum, risus et aliquet consectetur, eros nisl blandit lorem"

02

Metode

metode penelitian mennggunakan data primer dan data sekunder. untuk penelitian data primer diantaranya ada data pengukuran arus dan kecepatan arus, serta data pasang surut air laut selama 29 hari, sedangkan untuk data sekunder berupa data batimetri, data garis pantai, serta data angin selama 1 bulan. pengambilan data yaitu dilaksanakan pada tanggal 12 oktober sampai 9 november 2020 dari BMKG Lampung.

Kecepatan dan Arah Arus

  • berdasarkan hasil pengukuran diperoleh kecepatan arus minimun sebesar 0,017 m/s ke arah 33 derajat, dan kecepatan arus maksimum sebesar 0,168 m/s ke arah 352 derajat, serta kecepatan rata-rata sebesar 0,0472 m/s.
  • pada gambar 3 menunjukkan current rose dimana pergerakan arus cenderung bolak-balik. dapat dilihat arus permukaan bergerak berbagai arah, namun arah yang paling dominan yaitu dari arah barat laut dan tenggara.
  • pada gambar 4 menunjukkan pergerakkan angin dominan ke arah barat laut-utara dengan kecepatan rata-rata 3,58 m/s.

03

Hasil dan Pembahsan

Pemisah Arus Pasut dan Arus Non-Pasut

  • Hasil pemisahan arus menunjukkan arus yang memdominasi adalah arus pasang surut dengan nilai presentase astronomc,sebesar 89,90 persen dan residu sebesar 10,91 persen.
  • pada gambar 5 ditunjukkan dengan data pengukuran yang berhimpitan dengan data arus pasut.
  • Hasil perhitungan pasang surut diperoleh nilai bilangan Formzahl sebesar 0,46 sehingga dapat diketahui tipe pasang surut di Teluk Lampung adalah tipe pasang surut campuran

Hasil dan Pembahasan

03

Model Arus Teluk Lampung

  • pada kondisi arus pasang surut tertinngi yaitu dengan pola arus bergerak ke arah utara melewati pulau-pulau bagiam dalam teluk dengan kecepatan sebesar 0,062-0,093 m/s, kemudian masuk ke dalam mulut teluk bergerak mengikuti garis pantai ke arah barat laut dengan kecepatan sebesar 0,031- 0,062 m/s.
  • berdasarkan hasil model ditunjukkan bahwa arah arus di teluk lampung cenderung mengikuti garis pantai dan tidak ada pembelokkan yang besar, kecuali pada daerah pesisir yang terjaadi perputaran arus.
  • hal itu disebabkan oleh arus yang menjalar terhalang oleh bangunan sehinnga terjadi pembelokkn arah.

Hasil dan Pembahasan

03

Verivikasi Hasil Model

  • pada perhitungan RMSE dan MAE antara hasil kecepatan arus model dengan arus lapangan memperoleh nilai sebesar 0,0334 dan 0,0227, adapun nilai eror sebesar 0,015 dan 0,0126.
  • perhitungan koefisien korelasi kedua data menghasilkan nilai korelasi sebesar 0,9215 untuk elevasi muka air dan 0,9463 untuk kecepatan arus.

Hasil dan Pembahasan

03

04

Kesimpulan

arus laut di teluk lampung memiliki kecepatan dengan rata-rata sebesar 0,0472 m/s yang dipengaruhi oleh pasang surut sebesar 89,09 persen dan angin juga mempengaruhi. pola pergerakan arus mengikuti tipe pasang surut yaitu pasang surut condong ke ganda. pada saat pasang pola arus bergerak daei selat sunda ke ara utara dan memasuki teluk lampung ke arah barat laut nilai elevasai muka air rata-rata sebesar 5,06 meter. sedangkan sat surut pola arus berbalik arah keluar teluk lmpung ke arah selatan menuju selat sunda dengan nilai elevasi muka air rata-rata sebesar 3,76 meter.

Rancang Bangun Sistem Sensor True Wind untuk Automatic Weather Station di Kapal

Dinamika Kimia

Outline

03. Hasil dan Pembahasan

01. Pendahuluan

04. Kesimpulan

02. Metode

01

Pendahuluan

pengamatan cuaca tidak hanya dilakukan di permukaan saja, namun dilakukan pengamatan di laut juga. pengamatan di laut dibag menjadi dua yaitu pengamatan langsung dan pengamatan tidak langsung.

badan klimatologi dan geofisika merupakan suatu lembaga yang berfungsi untuk memahami dan mengamati fenomena meteorologi, klimatologi, kualitas udara dan geofisika.

02

Metode

05

04

03

01

02

perhitungan angin sebenarnya secra meterologi dari pergerakkan kapal dibutuhkan pengamatan yang disesuaikan dengan arah horizontal kapal.

angin sebenanya kemudian dihitung dengan menjumlahkan komponen vekto dan angin semu dan geakan kapal.

membangdingkan vaiabel kecepatan kapal dengan data dai GPS beupa pepindahan koodinat sesuai lokasi setiap waktu.

mencatat gerakan vekto dai kapal diatas bumi yang tetap.

kemudian menghitung waktu tempuh 2 titik GPS , maka akan didapatkan kecepatan yang ditempuh dai 2 titik koodinat .

Kalibrasi Sensor Angin

  • Kalibrasi dilakukan untuk menetapkan standaisasi pada sensor dengan menguji sensor angin pada wind tunel di laboatoium kalibrasi BMKG.
  • dai tabel 1 dapat disimpulkan bahwa didapatkan nilai multiplier sebesa 0,741356653 dan nilai offset sebesa 1, 021770079.
  • nilai multipie dan nilai offset dihasilkan dai pesamaan regerasi linear berdasarkan nilai sensor standard dan nilai sensor uji.
  • kemudian nilai-nilai ini dimasuka kedalam scrip progam untuk menyesuaikan keluaran sensor angin yaitu menggunakan sensor angin standar.

03

Hasil dan Pembahasan

Hasil rancangan sistem true wind sensor diimplementasikan dengan melakukan pengujian alat pada kapal yang berlayar dari Muara Angke sampai pulau kelapa kurang lebih 2,5 jam.

Rancang Bangun Sistem

  • dalam pengujian ini alat diletakkan dibagian belakang kapal, dengan menempatkan sensor angin dan kompas mengarah ke utara bumi.
  • kompas akan dihubungkan ke Minsys ATMega328P kemudian dengan menggunakan komunikasi serial.
  • Kemudian data-data yang dihasilkan oleh Minsys ATMega328P akan diteuskan ke Dattalogger CR1000.
  • Untuk sistem true wind sensor ini disuplai menggunakan solar panel dan aki.
  • tru wind sensor ini nantinya akan diimplementasikan ke dalam AWS kapal.

Hasil dan Pembahasan

03

Hasil reprresentasi GPS Kapal

  • pada gambar 6 menunjukkan dimana rute perjalanan kapal saat melakukan penelitian.
  • koordinat lintang dan bujur dapat mempresentasikan suatu lokasi tempat dipemukaan bumi.
  • dengan terkumpulnya data tersebut maka dihasilkan sebuah representasi rute perjalanan yang diplot menggunakan excel.
  • jika dilihat dari hasil plot yang didapatkan GPS mengenai garis lintang dan bujur bahwa tingkatan keakuratan GPS yang digunakan sudah cukup baik.

Hasil dan Pembahasan

03

Hasil Pengujian antara Kecepatan Kapal menggunaakan Sensor GPS, GPS Kapal, dan Spedometer Kapal

  • pada gambar disamping menunjukkan hasil pengujian data yang direpresentasikan menjadi sebuah grafik. yang menujukkan perbandingan antara data hasil kalkulasi kecepatan kapal menggunakan GPS yang dipasang pada AWS kapal, dan pada GPS kapal itu sendiri serta kecepatan spedometer pada kapal.
  • tingkat akurasi kecepatan kapal dengan menggunakan GPS mungkin akan menurun seiring meningkatnya kecepatan kapal karena dipengaruhi oleh waktu pengiriman data dan pembacaan data satelit.
  • untuk pengujian pini didapatkan hasil yang cukup sesuai dengan kecepatan kapal sesungguhnya (spedometer kapal).

03

Hasil dan Pembahasan

Hasil Pengolahan Data

  • pada gambar disamping untuk mengetahui kapan sensor angin yang digunakan sudah kurang bekerja secara maksimal dalam pembacaan arah angin karena dipengaruhi oleh kecepatan kapal itu sendiri.
  • dapat disimpulkan ketika kecepatan kapal melebihi 6,5 m/s akurasi pembacaan arah angin dari sensor mulai berkurang dikarenakan pada kecepatan kapal.
  • sehingga pembacaan sensor dapat diketahui pada arah yang tertentu saja dikarenakan kurangnya sensor pada kapal tersebut.

Hasil dan Pembahasan

03

Hasil Pengukuran Arah dan Kecepatan Angin pada Kapal

  • pada gambar disamping merupakan hasil plot windrose dari data pengujian AWS kapal dengan rute perjalanan yang dimulai dari muara angke ke pulau kelapa selama kurang lebih 2,5 jam waktu perjalanan.
  • pada gambar disamping dapat disimpulkan bahwa arah angin dominan ke arah barat laut dengan kecepatan angin sekitar 5-6 m/s yang digambarkan pada warna kuning.

Hasil dan Pembahasan

03

04

Kesimpulan

Dari data hasil pengujian rancang bangun sistem true wind sensor pada kapal, dapat disimpulkan bahwa metode kalkulasi yang digunakan menentukan kecepatan dan arah angin yang sebenarnya pada kapal., maupun dengan metode kalkulasi GPS untuk menentukkan kecepatan kapal terbukti benar dan diimplementasian pada AWS kapal. untuk data yang dihasilkan oleh true wind sensor adalah data realtime. hal ini dapat dilihat dari kesesuaian data dengan keadaan yang sesungguhnya.

Analisa Sebaran Klorofil-a dan Kualitas Air di Perairan Pulau Sintok, Karimunjawa, Jawa Tengah

Dinamika Biologi Laut

Outline

03. Hasil dan Pembahasan

01. Pendahuluan

04. Kesimpulan

02. Metode

01

Pendahuluan

Perairan Pulau Karimunjawa terbagi atas beberapa zona pemanfaatan, diantaranya adalah zona inti, zona budidaya, dan zona pariwisata. Masing-masing zona pemanfaatan tersebut memiliki kegiatan yang berbeda-beda sesuai dengan zona pemanfaatannya. Setiap kegiatan yang dilakukan di daerah tersebut akan mempengaruhi kualitas perairan, selanjutnya akan berpengaruh terhadap keberadaan biota perairan khususnya fitoplankton. Fitoplankton menjadi parameter utama dalam perubahan kualitas air suatu perairan dikarenakan fitoplankton merupakan biota pertama yang merespon perubahan kualitas perairan. Tingkat produktivitas perairan atau kesuburan suatu perairan pesisir dapat dinilai dari karakteristik biologi maupun fisika-kimia terutama dari ketersediaan zat hara esensial. Selain itu faktor biologis yang mempengaruhi tingkat kesuburan suatu perairan adalah klorofil-a. Klorofil-a merupakan pigmen yang mampu melakukan fotosintesis dan terdapat di seluruh biota fitoplankton. Fitoplankton di dalam ekosistem perairan berperan sebagai pengubah zat-zat anorganik menjadi zat organik melalui proses fotosintesis, yang kemudian dapat menentukan produktivitas perairan.

"Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Phasellus interdum, risus et aliquet consectetur, eros nisl blandit lorem"

02

Metode

Metode Pengambilan Data Kualitas Air

Metode Penentuan Titik Lokasi

Metode Pengambilan Data Sampel Klorofil-a

Pengukuran data kualitas air dilakukan dengan pengambilan data sampel yang diukur meliputi suhu, pH, DO, salinitas dan kecerahan. Paremeter suhu, pH, DO, dan salinitas diukur menggunakan water quality checker.

Metode penentuan lokasi pengukuran insitu menggunakan purposive sampling method, yaitu menentukan lokasi pengambilan sample berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu dari peneliti

Pengukuran data lapangan ini dilakukan dengan pengambilan data sampel klorofil-a diambil secara horisontal mengunakan ember, kemudian dimasukkan kedalam botol sampel 1500 ml dan disimpan ke dalam kotak pendingin(coolbox).

Hasil Konsentrasi Klofil-a

  • Kandungan Klorofil – a di 10 stasiun pengamatan perairan Pulau Sintok, Karimunjawa berkisar antara 0,1401348 – 0,9097467 (mg/l) hal ini menunjukkan bahwa kandungan klorofi–a pada perairan Pulau Sintok ini termasuk dalam kategori oligotrofik. Dikategorikan oligotrofik karena perairan masih bersih dan belum tercemar dari unsur hara yang berlebih, perairan masih bersih dan jernih, tidak dijumpai tanaman air yang berlebih dan rendahnya unsur hara.

Hasil dan Pembahasan

Hasil Konsentrasi Kualitas Air

03

  • Hasil pengukuran parameter kualitas air menunjukkan bahwa perairan Pulau Sintok masih meiliki kualitas perairan yang baik untuk menunjang kehidupan ekosistem didalamnya.

Mawar Arus

  • Data arus diambil menggunakan instrument Accoustic Doppler Current Profiler (ADCP) pada total kedalaman 12 meter dibagi menjadi 6 layer yaitu pada kedalaman 2 meter, 4 meter, 6 meter, 8 meter, 10 meter, dan 12 meter. Pengukuran dilakukan selama 7 X 24 jam (2 April 2017 – 9 April 2017) dengan interval waktu 600 detik dan sample rate 300 detik. Arah dan kecepatan arus yang terjadi di Perairan Karimunjawa menunjukan adanya pola arus yang bergerak 2 arah atau yang disebut dengan bi-directional current.

Hasil dan Pembahasan

03

Hubungan Klorofil-a dengan Kualitas Air

1. Hubungan Klorofil-a dengan Suhu Hubungan klorofil-a dengan suhu terlihat signifikan. Hasil korelasi klorofil-a dengan suhu menunjukkan bahwa klorofil-a dipengaruhi oleh suhu yaitu sebesar R2 = 0,7407. Hubungan klorofil – a dan suhu memiliki nilai korelasi regresi 0,7628, hal ini menunjukkan persebaran klorofil – a di perairan Pulau Sintok sangat dipengaruhi oleh persebaran suhu. Hal tersebut berkesinambungan dengan pernyataan Hutabarat dan Evans (1986) bahwa suhu air rata rata berkisar antara 24 – 32˚C sehingga pada kisaran tersebut plankton dapat tumbuh dan berkembang biak dengan baik. Berdasarkan hasil overlay stasiun 1 hingga 10 menunjukkan pola persebaran klorofil – a dan suhu memiliki kesamaan dan bersifat divergen.

Hasil dan Pembahasan

03

Hubungan Klorofil-a dengan Kualitas Air

2. Hubungan Klorofil-a dengan Salinitas Hubungan klorofil-a dengan salinitas terlihat signifikan. Hasil korelasi klorofil-a dengan salinitas menunjukkan bahwa klorofil-a dipengaruhi oleh salinitas sebesar R2 = 0,8547. Korelasi klorofil – a dan salinitas bernilai R2 = 0,8547 (gambar 5). Nilai regresi yang cukup tinggi menunujukkan bahwa persebaran klorofil – a dan salinitas memiliki hubungan erat namun bersifat negatif. 3. Hubungan Klorofil-a dengan Kecerahan Korelasi klorofil – a dan salinitas bernilai R2 = 0,8547 (gambar 5). Nilai regresi yang cukup tinggi menunujukkan bahwa persebaran klorofil – a dan salinitas memiliki hubungan erat namun bersifat negatif.

Hasil dan Pembahasan

03

Hubungan Klorofil-a dengan Kualitas Air

4. Hubungan Klorofil-a dengan Derajat Keasaman (pH) Hubungan klorofil-a dengan pH terlihat signifikan. Hasil korelasi klorofil-a dengan pH menunjukkan bahwa klorofil-a dipengaruhi oleh pH yaitu sebesar R2 = 0,9126. Derajat keasaman atu pH di perairan Pulau Sintok memiliki nilai konsentrasi sebesar 7 hingga 7,15. Nilai kisaran tersebut menunjukkan perairan tersebut tergolong baik untuk kehidupan biota laut dan mikrobiota seperti fitoplankton dan termasuk nilai yang optimum untuk perairan. Sesuai dengan KepMen LH No. 51 tahun 2004 tentang baku mutu air laut untuk biota laut, bahwa pH optimum bagi perairan sekitar 7 – 8,5. derajat keasaman sebesar 0,9126 dan bersifat positif menunjukkan hubungan yang kuat antara kedua variabel tersebut. Nilai derajat keasaman juga sesuai dengan substrat dasar perairan Pulau Sintok yang merupakan pasir dan koloni terumbu karang yang melimpah sehingga mendukung kehidupan fitoplankton. Hasil overlay antara dua variable yang menunjukkan pola sebaran divergen juga menunjukkan adanya pengaruh yang besar dari faktor fisika – kimia dan juga faktor kedalaman perairan.

Hasil dan Pembahasan

03

Hubungan Klorofil-a dengan Kualitas Air

5. Hubungan Klorofil-a dengan Oksigen Terlarut (DO) Hubungan klorofil-a dengan DO terlihat signifikan. Hasil korelasi klorofil-a dengan DO menunjukkan bahwa klorofil-a dipengaruhi oleh DO yaitu sebesar R2 = 0,9126. Kadar oksigen terlarut atau DO di perairan Pulau Sintok berkisar antara 4,9 mg/l – 5,6 mg/l. Nilai DO pada perairan ini tergolong rendah, bahwa secara umum kandungan oksigen terlarut di perairan Karimunjawa relatif rendah bila dibandingkan dengan kandungan umum oksigen terlarut yang dijumpai di perairan laut. Namun nilai tersebut masih tergolong normal untuk kehidupan dan proses metabolisme biota laut seperti fitoplankton. Nilai regresi antara klorofil – a dan oksigen terlarut di perairan Pulau Sintok cukup besar yaitu . Nilai ini menunjukkan hubungan yang kuat antara klorofil – a dan DO, dimana proses fotosintesis itu sendiri membutuhkan oksigen. Hasil overlay klorofil – a terhadap DO menunjukkan pola persebaran yang sama yaitu divergen. Pola ini menunjukkan adanya pengaruh kedalaman perairan terhadap fluktuasi nilai dua variabel tersebut.

Hasil dan Pembahasan

03

04

Kesimpulan

Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa konsentrasi klorofil-a di perairan Pulau Sintok, Karimunjawa rata-rata sebesar 0,58588 mg/l, pola sebarannya adalah divergen. Dan nilai kualitas air di perairan Pulau Sintok, Karimunjawa memiliki nilai rata-rata untuk suhu sebesar 28,77 °C; salinitas sebesar 23,246%; kecerahan sebesar 97,3 %; pH sebesar 7,089, DO sebesar 5,304, dengan pola sebarannya berbentuk divergen.Serta hubungan klorofil-a dan kualitas air berdasarkan hasil overlay berbentuk divergen. Sedangkan nilai korelasi klorofil-a dan suhu sebesar R2 = 0,7407; klorofil-a dan salinitas sebesar R2 = 0,8547; klorofila dan kecerahan sebesar R2 = 0,2758; klorofil-a dan pH sebesar R2 = 0,9126; klorofil-a dan DO sebesar R2 = 0,9126; .

Rancang Bangun Support Pole untuk Alat Pemantau Cuaca Pada Lingkungan Tambak Garam

Dinamika Garam

Outline

03. Hasil dan Pembahasan

01. Pendahuluan

02. Metode

04. Kesimpulan

01

Pendahuluan

Sebagai negara pemilik garis pantai terpanjang ke-2 di dunia, dengan panjang 99.093 km, garam menjadi salah satu hasil komoditas di Indonesia. Namun posisi geografis Indonesia membuat wilayahnya mengalami beragam kondisi iklim dan cuaca. Cuaca merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produksi garam. Salah satu cara membantu petani garam meningkatkan jumlah produksi garam adalah dengan menggunakan alat pemantau cuaca yang dapat memberikan informasi cuaca di sekitar lahan tambak garam yang meliputi suhu, tekanan udara, kelembaban, kecepatan angin, arah angin dan curah hujan.yang diperoleh melalui pengukuran langsung di lahan tambak garam dan hasil pengukurannya ditransmisikan secara daring sehingga dapat dimonitor dari mana saja. Dengan adanya alat pemantau cuaca yang dipasang di lahan tambak garam, maka data dan informasi perubahan cuaca dapat diperoleh dengan cepat dan akurat melalui pengukuran langsung.

02

Metode

Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode analisis deskriptif dengan pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dan observasi. Studi pustaka dilakukan dengan membaca literatur mengenai alat pemantau cuaca (weather station) serta jenis dan karakteristik bahan pipa yang memungkinkan dijadikan untuk tiang penyangga (support pole). Observasi dilakukan dengan pengamatan langsung terhadap contoh alat pemantau cuaca yang ada dipasaran dan survey ke beberapa lokasi tambak garam.

  • Berdasarkan hasil observasi melalui survey ke beberapa lokasi tambak garam mengenai kondisinya bahwa support pole yang dibuat harus memiliki ketinggian tidak kurang dari 5 meter dan pemasangannya nanti harus jauh dari bangunan atau pepohonan yang tinggi agar perangkat sensor yang ditempatkan di bagian ujung atas, seperti sensor curah hujan, sensor kecepatan dan arah angin, dapat bekerja secara optimal, angin atau air hujan tidak terhalang oleh bangunan atau pepohonan.
  • Secara garis besar, support pole ini terdiri dari 2 bagian utama yaitu tiang utama dan komponen penguat. Tiang utama berfungsi untuk penempatan peralatan pemantau cuaca, sedangkan komponen penguat berfungsi untuk memperkokoh berdirinya tiang utama dan menjaga keseimbangannya dalam menopang beban. Komponen penguat ini terdiri dari tiang tripod, tiang pasak, dan kawat sling. Tiang tripod dan tiang pasak juga dibuat dari pipa galvanis.

Hasil dan Pembahasan

03

06

Kesimpulan

Berdasarkan pengamatan visual dapat disimpulkan bahwa support pole yang telah dibuat dan digunakan untuk mendukung pemasangan alat pemantau cuaca di lahan tambak garam dapat berfungsi dengan baik untuk penempatan peralatan pemantau cuaca serta dapat berdiri dengan kokoh dan stabil/seimbang. Posisi pemasangan alat pemantau cuaca di lahan tambak garam juga harus jauh dari bangunan atau pepohonan tinggi agar perangkat sensor yang ditempatkan di bagian atas, seperti sensor curah hujan, sensor kecepatan dan arah angin, dapat bekerja secara optimal, angin atau air hujan tidak terhalang oleh bangunan atau pepohonan.

Refrensi

Alhaq, M. S., Suryoputro, A. A. D., Zainuri, M., Muslim, M., & Marwoto, J. (2021). Analisa Sebaran Klorofil-a dan Kualitas Air di Perairan Pulau Sintok, Karimunjawa, Jawa Tengah. Indonesian Journal of Oceanography, 3(4), 1-12. Kuncoro, A., Widyanto, S. W., Wisnugroho, S., Bramawanto, R., & Prasetiawan, N. R. (2021, December). RANCANG BANGUN SUPPORT POLE UNTUK ALAT PEMANTAU CUACA PADA LINGKUNGAN TAMBAK GARAM. In PROCEEDINGS OF NATIONAL COLLOQUIUM RESEARCH AND COMMUNITY SERVICE (Vol. 5, pp. 60-65). Milasari, A., Ismunarti, D. H., Indrayanti, E., Muldiyatno, F., Ismanto, A., & Rifai, A. (2021). Model Arus Permukaan Teluk Lampung pada Musim Peralihan II dengan Pendekatan Hidrodinamika. Buletin Oseanografi Marina, 10(3), 259-268. Pramagusta, A. P., Putra, M., Santoso, B., & Ridho, M. S. (2020, March). Rancang Bangun Sistem Sensor True Wind untuk Automatic Weather Station di Kapal. In Prosiding-Seminar Nasional Teknik Elektro UIN Sunan Gunung Djati Bandung (pp. 121-134).

Thanks for your attention

Any question?