Want to create interactive content? It’s easy in Genially!

Get started free

ETOS KERJA MELAYU

aries mutakin

Created on November 8, 2022

Start designing with a free template

Discover more than 1500 professional designs like these:

Animated Chalkboard Presentation

Genial Storytale Presentation

Blackboard Presentation

Psychedelic Presentation

Chalkboard Presentation

Witchcraft Presentation

Sketchbook Presentation

Transcript

sejarah kebudayaan melayu

Etos kerja melayu

alrifky hendrawan 19120010aries mutakin 19120011 dinda dwi permata 19120009

pengertian etos kerja

Etos berasal dari bahasa Yunani (etos) yang memberikan arti sikap, kepribadian, watak, karakter, serta keyakinan atas sesuatu. Sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu, tetapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat . Dalam kamus besar bahasa Indonesia etos kerja adalah semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau sesesuatu kelompok. Secara terminologis kata etos, yang mengalami perubahan makna yang meluas. Digunakan dalam tiga pengertian yang berbeda yaitu: 1. Suatu aturan umum atau cara hidup 2. Suatu tatanan aturan perilaku. 3. Penyelidikan tentang jalan hidup dan seperangkat aturan tingkah laku .

Kerja merupakan perbuatan melakukan pekerjaan atau menurut kamus W.J.S Purwadaminta, kerja berarti melakukan sesuatu, sesuatu yang dilakukan. Kerja memiliki arti luas dan sempit dalam arti luas kerja mencakup semua bentuk usaha yang dilakukan manusia, baik dalam hal materi maupun non materi baik bersifat intelektual maupun fisik, mengenai keduniaan maupun akhirat. Sedangkan dalam arti sempit, kerja berkonotasi ekonomi yang persetujuan mendapatkan materi. Jadi pengertian etos adalah karakter seseorang atau kelompok manusia yang berupa kehendak atau kemauan dalam bekerja yang disertai semangat yang tinggi untuk mewujudkan cita-cita.

Fungsi dan tujuan etos kerja

Secara umum, etos kerja berfungsi sebagai alat penggerak tetap perbuatan dan kegiatan individu. Menurut A. Tabrani Rusyan, fungsi etos kerja adalah:a. Pendorong timbulnya perbuatan. b. Penggairah dalam aktivitas. c. Penggerak, seperti mesin bagi mobil besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat lambatnya suatu perbuatan.

faktor yang mempengaruhi etos kerja

Latar belakang pendidikan Hasil penelitian Boatwright dan Slate (2000) menyatakan bahwa etos kerja tertinggi dimiliki oleh pekerja dengan latar belakang pendidikan S1 dan terendah dimiliki oleh pekerja dengan latar belakang pendidikan SMU. Etos kerja tidak dapat dipisahkan dengan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan sumber daya manusia akan membuat seseorang mempunyai etos kerja keras. Meningkatnya kualitas penduduk dapat tercapai apabila ada pendidikan yang merata dan bermutu, disertai dengan peningkatan dan perluasan pendidikan, keahlian dan keterampilan, sehingga semakin meningkat pula aktivitas dan produktivitas masyarakat sebagai pelaku ekonomi.

LATARBELAKANG PENDIDIKAN

JENISKELAMIN

USIA

LAMANYABEKERJA

Lama bekerja Menurut penelitian Boatwright dan Slate (2000) mengungkapkan bahwa pekerja yang sudah bekerja selama 1-2 tahun memiliki etos kerja yang lebih tinggi daripada yang bekerja dibawah 1 tahun. Semakin lama individu bekerja, semakin tinggilah kemungkinan individu untuk memperoleh kesempatan untuk mengembangkan dan menggunakan kapasitasnya dan memperoleh peluang untuk pertumbuhan dan mendapatkan jaminan. Kedua hal diatas akan membentuk persepsi seseorang terhadap kualitas kehidupan bekerjanya (Walton, dalam Kossen 1986).

Jenis kelamin Menurut penelitian yang dilakukan oleh Boatwright dan Slate (2000), wanita memiliki etos kerja yang lebih tinggi dari pada pria. Usia Menurut hasil penelitian Buchholz’s dan Gooding’s, pekerja yang berusia di bawah 30 tahun memiliki etos kerja lebih tinggi daripada pekerja yang berusia diatas 30 tahun (dalam Boatwright & Slate, 2000).

ETOS KERJA MASYARAKAT MELAYU

Masyarakat melayu dulunya memiliki etos kerja yang di sebut “ semangat kerja” yang tinggi, semangat yang mampu harkat dan martabat kaumnya” untuk duduk sama rendah tegak sama tinggi” dengan masyarakat dan dengan bangsa lain. Sedangkan, etos kerja masyarakat melayu yang lazim di sebut dengan “ pedoman kerja melayu “, di akui oleh banyak ahli, karena hal ini sangat ideal dengan etos kerja yang universal, terutama di dunia Islam. Dengan modal “ pedoman kerja melayu” tersebut masyarakat melayu mampu membangun negri dan kampung halaman, mereka juga mampu mensejahterakan kehidupan masyarakat dan menghadapi persaingan.

Dalam adat melayu, banyak menyerap nilai nilai agama Islam , terdapat suatu ungkapan yang mengatakan “ adat bersendikan syara, syarak besendikan kitabullah”. Menurut ungkapan ini orang yang tidak bekerja, apalagi sengaja tidak mau bekerja, dianggap melalaikan kewajiban, melupakan tanggung jawab, menafikkan ajaran agama dan tuntunan adat istiadat serta mengabaikan tunjuk ajar yang banyak memberikan petuah tentang etos kerja. Sikap malas dan sikap lalai dianggap sikap tercela oleh masyarakat melayu, yang di sebut “ tak ingat hidup akan mati, tak ingat hutang yang di sandang, tak ingat beban yang dipikul “. Oleh karena itu dalam masyarakat melayu, orang yang pemalas di rendahkan oleh masyarakatnya.

Dalam etos kerja melayu, prinsip keadilan dan kebersamaan merupakan hal yang penting. Prinsip dan kebersamaan dan tolong menolong juga merupakan dasar dalam etos kerja melayu. Di dalam buku ini, penulis sedikit membahas mengenai Etos Kerja Orang Melayu. Dengan begitu, kita akan mengetahui sedikit banyak mengenai etos kerja orang melayu.

ETIKA KERJA DALAM BUDAYA MELAYU

Di samping itu, budaya melayu juga mengajarkan etika kerja. Adapun konsep etika kerja dalam budaya melayu dapat di lihat dari pribahasa berikut ini : 1. Biar lambat asal selamat Orang-orang tua melayu, menekankan pada anak anaknya supaya berhati hati dalam bekerja dan mengambil keputusan. 2. Tidak lari gunung di kejar Orang melayu di sarankan tidak tergopoh gopoh dan selalu bersabar dalam bekerja, sebab dengan tergopoh gopoh hasilnya tidak baik. 3. Awal di buat, akhir di ingat Pekerjaan yang di kerjakan secara tergesa gesa selalu menimbulkan kesulitan dan tidak lengkap, tidak terurus. Oleh sebab itu, masyarakat melayu jika hendak membuat suatu aktivitas selalu di fikirkan semasak masaknyasehingga hasilnya maksimal 4. Alang-alang berdawat, biarlah hitam. Jangan asal asalan dalam bekerja 5. Kerja beragak-agak tidak menjadi, kerja berangsur angsur tidak bertahan

TERIMA KASIH