Want to create interactive content? It’s easy in Genially!

Get started free

Aqidah ahlussunnah waljamaah dan mu'tazilah

rizqi Fazar

Created on November 4, 2022

presentasi kelompok

Start designing with a free template

Discover more than 1500 professional designs like these:

Vaporwave presentation

Animated Sketch Presentation

Memories Presentation

Pechakucha Presentation

Decades Presentation

Color and Shapes Presentation

Historical Presentation

Transcript

Presentation

Aqidah an nahdiyyah

Muhamad Rizqi PajarFatimah Nurul Jannah Ardi apri

pENGERTIAN

1. Ahlussunnah Wal jama'ahAswaja merupakan singkatan dari Ahlussunah Waljama’ah yang terdiri dari kata as-sunnah berarti segala sesuatu yang diriwayatkan nabi SAW baik berupa perilaku,perbuatan yang mencakup tindakan, perkataan, dan ketetapan rosulullah SAW baik sebelum dan sesudah menjadi nabi. Al jamaah berasal dari al-ijtima’yang berarti berkumpul atau bertemu. Kata Ahl, yang berarti keluarga, pengikut atau golongan.Kata as-sunnah, secara etimologis (bahasa) memiliki arti at-thariqoh(jalan dan perilaku), baik jalan dan perilaku tersebut benar atau keliru. Secara terminologi (istilah), para ulama berbeda pendapat tentang pengertian as-sunnah.Kata jama’ah, secara etimologis ialah orang-orang yang memelihara kebersamaan dan kolektifitas dalam mencapai tujuan. Secara garis besarnya, Ahlussunnah Waljama’ah adalah manusia yang paling baik akhlaknya, sangat peduli terhadap kesucian jiwa mereka dengan berbuat ketaatan kepada Allah SWT, paling luas wawasannya, paling jauh pandangan, paling lapang dadanya dengan khilaf (perbedaan pendapat) dan paling mengetahui tentang adab-adab dan prinsip-prinsip khilaf.

pENGERTIAN

Sedangkan Mu’tazillah berasal dari kata I’tizalla anna yang artinya memisahkan. Mu’tazillah adalah kaum yang muncul di Basra pada abad ke 2 H yang bermula dari tindakan Wasil bin Atha’ yang berpisah dari gurunya Imam Hasan al Bishri karena perbedaan pendapat. Pada saat itu, Washil, yang merupakan murid dari Hasan memiliki perbedaan pendapat dengan gurunya. Ketika itu hasan sedang mengadakan sebuah majelis, kemudian beliau mengutarakan tentang status muslim yang melakukan dosa besar. Secara toba-tiba Washil berpendapat bahwa pelaku dosa besar berada di antara dua tempat tersebut yakni bukan mukmin bukn pula kafir dan langsung memisahkan diri dari kelompok yang ada di majelis tersebut sehingga washil disebut telah berpisah atau memisahkan diri dari hasan sehingga muncullah aliran mu’tazilah ini.

Ajaran-ajaran Tauhid dalam aliran Ahlussunnah dan Mu’tazillah

Ajaran dalam aliran Ahlussunnah di antaranya : Ajaran Al-Asy’ari sendiri dapat diketahui dari buku-buku, terutama dari kitab Al-Luma’ fii Al-Rad ‘ala Ahl Al-Ziagh wa Al- ‘Bida’ dan Al-Ibana ‘an Usul Al-Dianah. Disamping buku-buku yang ditulis oleh para pengikutnya. Sebagai penentng mu’tazilah, sudah barag tentu ia berpendapat bahwa Tuhan memiliki sifat. Mustahil kata Al-Asy’ari Tuhan mengetahui dengan Dzat-Nya, karena dengan demikian Dzat-Nya adalah pengetahuan (ilm), tetapi yang mengetahui atau ‘alim Tuhan mengetahui dengan pengetahuan dan pengetahuan-Nya bukan Dzat-Nya. Demikian pula dengan sifat-sifat seperti sifat hidup, berkuasa, mendengar dan melihat.

Ajaran dalam aliran Mu’tazilah ada lima di antaranya :

1. At-Tauhid, bagi mu’tazilah tauhid Allah harus dipahami bahwa Allah adalah Dzat yang unik dan tidak ada yang menyerupain-Nya.

2. Al-Adl, bagi mu’tazilah Allah itu haruslah adil. Ia tidak dapat dan tidak akan berbuat zalim.

3. Al-Wa’ad wa Al-Wa’id, disini adalah kelanjutan dari Al-Adl. Dimana Allah tidak dapat disebut adil apabila tidak member pahala kepada yang berbuat baik dan tidak member sanksi kepada yang berbuat buruk.

4. Al-Manzilat bain Al-Manzilatain, disini disinggung tentang pelaku dosa besar. Bagi mu’tazilah pelaku dosa besar berada diantara dua posisi antara mukmin dan kafir.

5. Al-Amir bi Al-Ma’ruf wa Al-Nahy’an Al-Munkar, mu’tazilah mewajibkan kaum muslim untuk berbuat baik dan mencegah berbuat keji

A. Menurut as-sunnah, Ahlussunnah Waljama’ah

Mengenai tauhid misalnya yang dikemukakan oleh al-asy’ari dan mu’tazilah tidak berbeda .perbedaan terjadi ketika membahas masalah yang bersifat cabang. Tentang sifat misalnya al-asy’ari dengan jelaas berbeda dan tegas menentang konsep mu’tazilah yang meniscahyakan keharusan paham nafyu al-shifat. Bagi al-asy’ari untuk menjaga dan mempertahankan kemurnian aqidah tauhid, dengan prinsip tanzih tidak harus dengan faham nafyu al-shifat. Ia sebaliknya, membawa dan mempertahankan paham itsbat al-shifat, Allah mempunyai sifat. Allah menurut al-asy’ari mustahil mengetahui dengan zatnya seperti paham mu’tazilah . bila dikatakan allah mengetahui dengan zatnya, lanjutnya, maka akan membawa arti bahwa zat allah adalah pengetahuan padahal lanjutnya zat allah bukan pengetahuan (‘ilm) tetapi yang mengetahui (‘ailim) maka yang benar adalah bahwa allah mengetahui dengan pengetahuan dan pengetahuannya bukan zatnya. Demikian pula halnya dengan sifta-sifatnya yang lain seprti sifat hidup, berkuasa dan mendengar.

B. Menurut kaum Mu’tazillah

Tauhid atau keesaan Tuhan merupakan suatu ajaran penting. Namun menurut mu’tazilah, tauhid memiliki arti yang spesifik. Tuhan harus disucikan dari segala sesuatu yang dapat mengurangi arti kemahaesaannya. Untuk memurnikan itu mu’tazilah menolak konsep Tuhan memiliki sifat-sifat dan penggambaran fisik Allah karena Allah itu esa tidak ada yang menyerupainya. Konsep ini bermula dari Washil bin Attha’, ia mengingkari bahwa mengetahui berkuasa, berkehendak, dan hidup adalah termasuk esensi Allah. Menurutnya jika sifat-sifat ini diakui sebagai kekal azali, itu berarti terdapat dalam”pluralitas yang kekal” dan berarti bahwa kepercayaan kepada Allah adalah dusta belaka. Namun gagasan Washil ini tidak mudah diterima. Pada umumnya mu’tazilah mereduksi sifat-sifat Allah menjadi dua, yakni ilmu dan kuasa dan menamakan keduanya sebagai sifat esensial. Selanjutnya mereka mereduksi bagi kedua sifat dasar ini menjadi satu saja yakni keesaan. Mereka juga menolak paham bahwa Allah dapat dilihat oleh manusia dengan mata kepala di akhirat kelak karena hal ini akan meniscayakan Tuhan berupa jisim atau materi yang mengambil tempat. Sesuai fiman Allah yang berbunyi : لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِير “Dia tidak dicapai oleh pengelihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala yang kelihatan dan Dialah yang maha halus dan maha mengetahui.” (Q.S Al An’am:103)

kesimpulan

Aliran Ahlussunnah wal jama’ah dan aliran Mu’tazilah merupakan aliran dengan corak akidah (teologi), hingga bermacam-macam mazhab fikih, ushul fikih dan ilmu-ilmu keislaman lainnya. Aliran Mu’tazilah sangat mengedepankan rasional dan mengesampingkan Al Qur’an dan Hadits, inilah yang tidak disepakati oleh ulama-ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah, karena ASWAJA ini mengedepankan Al Qur’an dan Hadits daripada rasional (logika) dan mengikuti dengan benar sunnah Rosulallah SAW ataupun para sahabat Rosul. Aliran Mu’tazilah lahir di Basrah pada permulaan abad pertama hijrah, yang dipelopori oleh Washil bin ‘Atha dan Amru bin Ubaid, aliran ini cepat berkembang dengan membahas ilmu kalam lebih mendalam dan bersifat filosofis daripada yang dibahas aliran-aliran sebelumnya. Dalam pembahasan masalah banyak yang menggunakan akal, sehingga terkenal dengan aliran rasionalis Islam. Ajaran-ajaran antara ahlu sunnah wal jamaah atua asy’ariyah bertentangan dengan aliran mu’tazilah baik dalam masalah keadilan tuhan dan pelaku dosa besar. Tauhid dalam ahlusunnah wal jamaah tidak terlalu berbeda dengan aliran mu’tazilah hanya berbeda dalam masalah cabangnya.

Terima kasih :)

Sesi pertanyaan

kamu nanya?