Want to create interactive content? It’s easy in Genially!

Get started free

CERPEN BANGKIT

Nur Syahla

Created on October 7, 2022

CERPEN BANGKIT

Start designing with a free template

Discover more than 1500 professional designs like these:

Corporate Christmas Presentation

Snow Presentation

Winter Presentation

Hanukkah Presentation

Vintage Photo Album

Nature Presentation

Halloween Presentation

Transcript

PRESENTASI

CERITA

PENDEK

PRESENTASI

CERITA

PENDEK

KELOMPOK 3

04. NAUFAL RIDHO

01. ZIKRINA HAYYU ISTIGHFARAH

07. ALFREDO EBENEZER MANIK

02. NUR SYAHLA

05. DIKY ZULKARNAIN

03. AURELIA SHAVIRA

06. FAREL FATTURAHMAN

SCRIBD

01

cerpen bangkit

Karya : Alfred Pandie

KELOMPOK 3

Pandanganku pada langit tua. Cahaya bintang berkelap kelip mulai hilang oleh kesunyian malam. Aku berjalan menyusuri lorong malam sepi nan gelap. Cahaya bulan malam ini begitu indahnya. Hari ini benar-benar hari yang melelahkan. Konflik dengan orang tua karena tidak lulus sekolah. Hari ulang tahun yang gagal dirayakan. Dan hadiah sepeda motor yang terpaksa dikubur dalam-dalam karena tak lulus ,belum lagi si adik yang menyebalkan. Teman-teman yang konvoi merayakan kemenangan, sedangkan aku?

Hari - hari yang keras kisah cinta yang pedas. Angin malam berhembus menebarkan senyumku walau sakit dalam hati mulai mengiris. Sesekali aku menghapus air mataku yang jatuh tanpa permisi. Sakit memang putus cinta. Rasanya beberapa saat lalu, aku masih bisa mendengar kata- kata terakhir nya yang terngiang-ngiang yang merobek otakku. "Sudah sana...kejarlah keinginanmu itu! , kamu kira aku tak laku, jadi begini sajakah caramu, oke aku ikuti... semoga kamu tidak menyesal mengkhianati cinta suci ini." Beberapa kata yang sempat masuk ke HP-ku, diikuti telepon yang sengaja kumatikan karena kesal dan muak.

Aku temenung di pinggir jalan, memegang kepala ku yang sakit. "Selamat malam..? sorry mbak kayaknya lagi sedih banget, boleh aku minta duitnya...." Seorang pemabuk dengan botol bir di tangan kiri dengan jalan yang tak beraturan, ia mengeluarkan sebilah pisau lipat dan mengancam ku. Aku hanya terdian tak berkata, membuatnya sedikit bingung. Aku meraih tas disampingku dan menyerahkan padanya "Ini ambil semuanya...aku tak butuh semua ini. Aku hanya ingin mati..!" Aku melemparkan tas kehadapannya yang disambut dengan senyum picik dan ia pun menghilang di gelapnya malam.

KELOMPOK 3

Aku bangkit berdiri dan berjalan menyusuri malam, berdiri menatap air sungai yang mengalir airnya deras.Di sini di atas jembatan tua ini. Angin sepoi-sepoi menyerang tubuh ku. Aku berdiri menatap langit yang bertabur bintang, Rasanya tak ada yang penting bagiku sekarang. Perlahan-lahan aku berjalan menaiki jembatan dan berdiri bebas. Menutup mata dan tinggal beberapa senti lagi aku akan terjatuh. Aku perlahan mengangkat kaki kananku dan...? Tiba-tiba sosok pemabuk yang menodong pisau padaku tadi, menarik baju ku dan menampar pipiku kuat, keras sekali tamparannya "Ini uang dan tas mu, Aku tak butuh...Aku lebih baik mati kelaparan daripada melihat wanita lemah sepertimu." ia menarik ku turun dan melemparkan tasku di atas tanah

Dan ia berlalu pergi. Aku bangkit dan meraih tas ku kembali menyusuri tangga turun. Sosok yang tadi, pria mabuk yang ternyata seumuran denganku, di sekujur tubuhnya penuh tato dan tubuhnya kurus sekali. Ia berdiri termenung pada tangga jalan. Sesekali menatap langit dan menghapus air matanya."Boleh aku berdiri disini bersamamu?" Aku menyapanya tapi ia hanya terdiam membisu. Aku berdiri di sampingnya menunggu sampai kapan ia akan berdiri pergi dari sini. "Kenapa kamu menamparku..? Kenapa kamu menolongku?"

kelompok 3

Aku sudah tak berarti lagi. Pria yang aku cintai bertahun-tahun mencaMpakkanku dengan tuduhan yang tak jelas, aku memulai pembicaraan. Dengan sesekali menghapus air mata akibat dari gejolak di hatiku. "apakah kamu akan terdiam atau aku telah mengusikmu? "Aku melihatnya dan ia balik menatapku tajam. Aroma alkohol dari mulutnya jelas tercium saat ia bicara "maafkan aku..! Sungguh aku minta maaF, menurut ku kamu terlalu lemah, masalah apapun jangan berhenti untuk bangkit, bukankah setiap hari kita merasakan hal yang sama?" Ia berkata sembari mengulurkan tangannya yang ternyata cuma dua jari yang utuh, Aku mulai merinding karena sedikit takut.

KELOMPOK 3

$ehingga aku tak membalas uluran tangannya. "kaget ya mbak?. Jariku yang lain di potong oleh preman karena persaingan. Hidup di jalan sepertiku ini, hawanya sangat dingin dan penuh nyali besar, bahkan untuk tertidur saja itu sulit. Harus rela kedinginan, Di gigit nyamuk dan tempat ku tertidur hanya di emperan toko, Dan kalau sudah penuh oleh gembel lain, terpaksa aku harus mencari tempat lain yang menurutku layak. Maaf bila aku mengambil tas mu. Aku butuh makan, sudah 3 hari aku tidak makan, sisa makanan di tong sampah sudah membusuk karena hujan kemarin, Biasanya aku mencari secerca kenikmatan disana yang masih bisa layak ku telan, rasa lapar tak akan bisa membuatmu jijik. Setiap hari saat membuka mata yang anda ingat hanya perut dan perut." Ia terdiam dan mengalihkan pandanganya luas menembus angkasa, langit malam ini. Aku hanya terdiam terpaku dengan mulut terbuka, betapa aku tak percaya setengah mati

Bagaimana mungkin seandainya sekarang aku berada di posisi ini? Aku yang terlahir dari keluarga sederhana namun penuh kehangatan, uang bukan masalah, aku hanya meminta tanpa pernah tahu bagaimana orang tuaku mendapatkannya, semuanya cukup, tapi ternyata itu bukan kebahagian, itu nafsu sesaat, Aku memang memiliki segalanya tapi tidak dengan cinta,selalu ada yang kurang setiap hari. Tanpa kebersaman kita mati. Terutama pentingnya mensyukuri apa yang ada. Aku menarik tangan dan menjabat tangannya kuat-kuat yang tinggal dua jari meski sedikit risih karena aneh menurutku. Aku memberinya sedikit pelukan hangat. Ia tersenyum memamerkan mulutnya yang bau alkohol dan bau WC umum. Aku menyerahkan tas ku padanya ."Ambil lah.. Aku tak mengenalmu tapi kamu memberi ku banyak alasan hari ini, kenapa aku harus kuat menghadapi hidupku sekarang dan nanti, bukankah hidup harus tetap di jalani. Aku sadar masih punya segalanya, bodoh sekali cuma karena cinta semangatku hilang, belum tentu ia jodohku, belum tentu ia juga memikirkan hal yang sama, rasa sakitku". Aku berlari menuruni tangga meninggalkan ia sendiri yang masih terdiam menatap kembali langit yang menampakkan bintang-bintang kecil yang berkelip dengan jenaka, seakan hari ini tak akan berlalu.

kelompok 3

Ketika aku akan menapaki jalan. Kekasihku sedang berdiri di depanku dengan bunga mawar banyak sekali di tangannya, sementara dibelakangnya orang tua dan adikku yang berdiri di samping mobil, kami saling terdiam untuk beberapa saat ia memulai."Maafkan aku sayang, ternyata aku yang salah menilaimu, terimakasih ya, sudah membuat hidupku lebih berharga karena ini. Ia menyerahkan bunga dengan sebuah diary usang punyaku, yang entah dari mana ia mendapatkannya. Tapi disinilah aku bisa menulis menitikan setiap masalah, rasa banggaku atas kekasihku ini.

Aku memeluk erat tubuhnya lama kami terdiam di iringi tangis dan canda menghiasi malam, sementara kedua orang tuaku tersenyum senang. Aku mengajak kekasihku menaiki tangga untuk mengenalkan pada orang yang mengajarkanku banyak hal. Khususnya arti bersyukur.Kami menapaki jalan tangga dan melirik sekeliling dan mencari namun sosok itu hilang tak berbekas? Kami turun dan kami pergi ke mall bersama orang tua dan adik ku untuk merayakan ulang tahunku.Walaupun tetap aku tak dapat sepeda motor karena tak lulus tapi bukan berarti kehangatan ini harus berakhir Tamat

KELOMPOK 3

02

Pengarang

KELOMPOK 3

PENGARANG Alfred Pandie

KELOMPOK 3

03

Nilai - NilaiKehidupan

Nilai Moral : Saat tokoh 'aku' menyadari selama ini hanya meminta tanpa pernah tahu bagaimana orang tuanya mendapatkannya. Kita seharusnya bersyukur dengan apa yang telah kita miliki dan tidak hanya menuntut sesuatu karna diluar sana masih banyak orang yang kekurangan.

Nilai Perjuangan : Pria pemabuk berjuang bertahan hidup di jalanan yang keras. Di kehidupan nyata banyak orang yang melakukan apapun untuk berjung hidup. Kita harus berjuang mempertahankan hidup di dunia yang keras ini.

Nilai Kepedulian : Saat Pria pemabuk menyelamatkan tokoh 'aku' yang akan terjun dari jembatan. Banyak orang yang membutuhakan bantuan kita saat menghadapi masalah kita seharusnya membantu mereka tidak membiarkannya.

KELOMPOK 3

04

Unsur Ekstrinsik Biografi Pengarang

KELOMPOK 3

Latar Kepengarangan Penulis : Penulis menjumpai berbagai reaksi masyarakat saat mereka gagal dan berputus asa. Dalam cerpen ini penulis ingin menginspirasi atau memotivasi orang-orang dalam menghadapi kerasnya hidup melalui ceritanya.

KELOMPOK 3

Keyakinan Penulis : Penulis yakin bahwa kejadian ini banyak ditemui dimasyarakat. Banyak orang yang bunuh diri karena putus asa maka penulis menggambarkan situasi tersebut dalam sebuah cerpen.

KELOMPOK 3

Masyarakat pembaca : Pembaca dapat mengambil hikmah dari cerpen ini karena cerpen ini mengandung masalah-masalah yang ada di masyarakat dan masih banyak orang yang memiliki masalah yang sama dengan cerpen ini.

KELOMPOK 3

05

Inti Sari atau Kesimpulan

Dari cerpen bangkit kita dapat menyimpulkan bahwa kita jangan mudah putus asa dalam menjalani kerasnya hidup, bersyukurlah atas apa yang dimiliki, jangan lari dari permasalahan serta kita harus menyadari bahwa sebesar apapun masalah jangan berhenti untuk bangkit

Demikianlah pembahasan tentang analisis dari cerpen bangkit yang bisa dijadikan inspirasi bagi kita semua, karena cerpen ini memiliki inspirasi kehidupan yang bisa membuat kita terus berjuang untuk menghadapi kehidupan yang sulit ini. Semoga dengan adanya analisi cerpen ini bisa bermanfaat bagi kita semua.

THANKS!