Want to create interactive content? It’s easy in Genially!

Reuse this genially

ANALISIS NOVEL

Vella Vrisca

Created on November 3, 2021

Start designing with a free template

Discover more than 1500 professional designs like these:

Vaporwave presentation

Animated Sketch Presentation

Memories Presentation

Pechakucha Presentation

Decades Presentation

Color and Shapes Presentation

Historical Presentation

Transcript

Menganalisis unsur kebahasaan novel

Nama kelompok:

1. Ninda Esti

2. Stefani Esher

3. Vella Vrisca Patresia

DILAN 1991

Karya Pidi Baiq

Analisis unsur isi dan kebahasaan

Unsur intrinsik : 1) Tokoha. Dilan : dalam novel ini dilan digambarkan sebagai tokoh yang pintar, digambarkan dalam kutipan: ...tapi Dilan selalu mendapat ranking pertama atau minimal kedua di kelasnya. (hal. 16) b. Milea : Milea digambarkan sebagai seorang yang cantik, disukai banyak orang, setia, khawatiran dan emosian. Buktinya adalah : Sebab, aku sudah berulang kali bilang ke Dilan bahwa aku cemas, bahwa aku risau karena takut ada hal-hal buruk yang akan menimpanya kalau dia berantem. Dan, malam Itu, dia malah mau berantem. (hal 146) c. Yugo : Yugo adalah anak dari Tante Anis, Tantenya Milea. Karakter Yugo adalah suka merendahkan orang lain. Bukti “Kenapa?” “Kampungan.” “Kenapa gitu kutanya. “Ada pepatah: You are what you say. Bicaranya tidak intelektual .” (hal. 170)

d. Ibu Milea : Dalam novel ini, ibunya Milea memiliki karakter yang sangat baik, penyayang, mengerti perasaan orang lain dan sangat peduli.“Aku jelaskan semuanya ke Ibu, sampai detail. Kemudian Ibu memelukku dan membiarkan aku terus menangis.” (hal. 191)e. Bunda Dilan : Bunda Dilan juga memiliki karakter humoris seperti Dilan. Buktinya adalah : “Nanti, Dilan sekolah di mana?” kutanya Bunda. “Aaah .... Banyak sekolah jawab Bunda. “Gak usah risau” Aku diam. “Kalau perlu di Antartika” kata Bunda. Pasti dia bercanda. (hal. 211)

B. Setting :1. Waktu : Novel ini menggunakan latar waktu yang sangat banyak, karena kejadian yang diceritakan pun berlangsung dalam jangka waktu yang lama dan terdiri dari banyak peristiwa. Waktu itu, tanggal 22 Desember 1990, sekitar pukul tiga sore, aku dan Dilan berdua naik motor menyusuri Jalan Buah Batu untuk mengantar aku pulang. (hal. 28) Itu sudah Sabtu sore, tanggal 7 Juni 1997.2. Suasana : · Senang :Berasa sangat dingin, tetapi pada kenyataannya, menyenangkan! Berdua dengan Dilan, bersama cinta yang dapat dirasakan tanpa perlu banyak penjelasan!Romantis : Itulah harinya, hari yang kuingat, sebagai hari yang menyenangkan bagiku, berdua di atas motor dalam guyuran hujan akhir Desember, pada tahun 1990, di Bandung. Kesepian : Pukul delapan malam. aku bangun. Bumi rasanya sepi sekali. Entah bagaimana, aku selalu merasa kesepian, setiap saat aku sedang rindu ke Dilan. Aku selalu merasa ingin ada dirinya, setiap kali dia tak ada. Aku akan merasa sunyi, setiap aku tidak mendengar kabar Dilan. (hal.139)

C. TempatDalam novel ini , ada beberapa tempat yang dijadikan latar cerita: a. Kamar Milea “Malam ini, tanggal 25 januari 2015, pukul 22.19 WIB dan sepi, aku sedang dikamarku, menikmati kopi susu …” (Hal 13) b. Jalan Buah Batu “Waktu itu aku dan Dilan berdua naik motor menyusuri jalan Buah Batu untuk mengantar aku pulang.” (Hal 28) c. Rumah Milea “Di rumah, kudapati Ibu sedang nelepon, Airin sedang main game Nintendo, si Bibi sedang nyetrika.” (Hal 38) d. Di sekolah “Hari itu, di sekolah, tidak ada kegiatan belajar karena guru-guru sedang rapat untuk persiapan pembagian rapor yang akan dilaksanakan pada hari selasa tanggal 26 Desember 1990.” (Hal 80)

D. Alur -Pengenalan : Milea Adnan Husain adalah siswi baru di Bandung, di tempat Dilan sekolah. Dilan sudah tertarik dengan Milea sejak mereka pertama kali bertemu, dilan berusaha meluluhkan hati Milea, dengan sifat humoris dan juga baik hati. pada tanggal 22 Desember 1990 mereka resmi berpacaran-Pengembangan : Hari hari bahagia berlalu, banyak momen yang mereka habiskan berdua, seperti jalan jalan mengelilingi Bandung dengan motor, saling berpelukan, tertawa saat bercakap-cakap, banyak sekali momen bahagia. hingga salah satu teman Dilan meninggal karena tawuran geng motor, karena sangat khawatir dengan Dilan, Milea menjadi tidak terkendali dan masalah-masalah mulai muncul, hingga pada akhirnya Milea memutuskan Dilan, sejak mereka putus mereka menjadi asing satu sama lain-Ending : setelah putus dari Dilan, Milea sudah jarang mendengar kabar tentang Dilan, waktu terus berlalu hingga akhirnya Milea lulus sekolah. Milea diterima di universitas indonesia, kemudian dia pindah ke Jakarta tinggal dengan saudaranya. Dilan masih ada di hati Milea, meskipun sudah berlalu Milea masih terus merindukan Dilan, karena ternyata pernyataan ''aku mencintaimu tidak berlaku untuk hari itu saja, tetapi selamanya''. Milea sekarang berpacaran dengan Mas Herdi, orang yang baik hati yang mampu membantu Milea mengatasi kesepian, awalnya mereka hanya berteman, tapi lama kelamaan Milea merasa bahwa Mas Herdi adalah orang yang tepat untuk masa depannya, meskipun Milea masih mengharapkan Dilan kembali

E. Sudut Pandang

Dalam Novel ini penulis Milea Adnan Hussein menempatkan dirinya pada posisi orang pertama serba tahu atau sebagai pelaku utama. Penulis mengisahkaan dirinya dengan menggunakan kata “aku” dan dia terlibat dalam kisah tersebut atau dengan kata lain Milea adalah pelaku utama dari novel ini. “Saat itu, aku masih remaja dan boleh dikatakan belum dewasa, dan belum mampu menghadapi masalah dengan benar, sehingga harus makium kalau kadangk adang ketika berusaha menyelesaikan satu masalah justeru malah menimbulkan masalah yang Iainnya.” (hal. 14)

F. Gaya BahasaPidi Baiq mengemas novel ini dengan bahasa yang ringan bahasa sehari-hari segingga dapat dengan mudah dimengerti oleh pembaca, ada beberapa majas yang digunakan dalam novel ini yaitu : 1. Metonimia (menggunakan nama merk dagang) a. “Kemana-mana selalu memakai motor CB Gelatik yang sudah ia modif” 2. Retorik (menggunakan kalimat tanya) a. “Karena kalau benar bagimu kata-kata itu tidak penting,lalu mengapa engkau sakit hati ketika mendapat kata-kata makian?” 3. Personifikasi a. “Saat kupandang juga dirinya, kenangan masalalu mulai membayangiku.” b. “Ini sedang berpacu dengan waktu,jangan sampai telat karena pukul 21.01 aku harus segera naik ke kasur kalau mau tidur bareng Dilan. 4. Hiperbola a. “Pokoknya, Dilan sudah menyalakan api dan sihir di dalam diriku untuk percaya pada adanya cinta sejati.”

G. Amanat

a. Jangan mengambil keputusan saat emosi jika tidak ingin ada penyesalan pada akhirnya. b. Jangan terlalu mengekang pasangan. c. Khawatir seperlunya, dan bertindak sewajarnya. d. Jangan menjadikan hubungan sebagai ancaman ketika sedang ada masalah

" Unsur Ekstinsik, nilai moral : 1. Nilai AgamaDalam novel, meskipun Dilan adalah seorang ketua geng motor, akan tetapi Dilan masih tetap taat dan rajin beribadah. Dan nilai-nilainya dalam hal akademik juga termasuk baik karena Dilan adalah anak yang pandai. 2. Nilai Adat istiadat Kebiasaan Dilan yang menyukai seni, membuatnya pandai menulis puisi sejak duduk di bangku SMP. Dilan juga memfavoritkan tokoh Mahatma Gandhi yang berasal dari India. Selain itu, Dilan juga pandai dalam hal bela diri. 3. Nilai Susila Dilan yang seorang gengstertidak lantas selalu terlibat dengan permasalahan seperti tawuran, konvoi dan biang onar. Pernah saat dia sedamg bersama Milea (yang dalam novel diceritakan sebagai pacarnya), Dilan bahkan memutuskan beristirahat di gedung sate Bandung (yang memang lokasi dalam novel tersebut berada di Bandung), untuk menghindari konvoi dan keributan dari geng motor lain. 4. Nilai Kesopanan Saat Milea kakinya terkilir, dengan baik hatinya Dilan memanggilkan Mbok Darmi (tukang urut langganan ibu Dilan) dan dengan sopannya Dilan menjemput dan mengantar Mbok Darmi pergi-pulang

Hubungan biografi pengarang dengan cerita : Pidi Baiq (lahir di Bandung, Jawa Barat 8 Agustus 1972) adalah seniman multitalenta asal Indonesia. Dia adalah penulis novel dan buku, dosen, ilustrator, komikus, musisi dan pencipta lagu. Namanya mulai dikenal melalui grup band The Panas Dalam yang didirikan tahun 1995. Pidi Baiq adalah orang yang lucu dan suka bacanda, oleh karena itu dalam novel Dilan, Pidi Baiq dapat memberikan bumbu bumbu humor yang membuat ceritanya menjadi semakin menarik dan tidak membosankan

thanks!