Want to create interactive content? It’s easy in Genially!

Reuse this genially

PPT MEKANISME PENYAKIT IMUN

Tiara Angela

Created on October 3, 2021

SISTEM IMUN DAN GANGGUANNYA

Start designing with a free template

Discover more than 1500 professional designs like these:

Audio tutorial

Pechakucha Presentation

Desktop Workspace

Decades Presentation

Psychology Presentation

Medical Dna Presentation

Geometric Project Presentation

Transcript

MEKANISME PENYAKIT DEFESIENSI IMUN dan mekanisme penyakit autoimun , serta contoh gangguan tubuh yang berkaitan dengan gangguan imun tubuh

NAMA KELOMPOK 6 :

1. NADILLA AISSYA NANDA2. SARA INDRAWATI 3. SENDI SANDRA AYU HARFIANA 4. SHINTA PUTRI KHAIRUNNISA 5. SRI WAHYUNI 6. SUDARTI 7. SULISTIANA PUTRI 8. SYAHRUL ARYANDI 9. TAAT MULANA JIDAN 10.TIARA ANGELA

DEFINISI DAN PEMBAGIANNYA

PENYEBAB

DIAGNOSIS

CONTOH PENYAKIT GANGGUAN

CARA MENGOBATI

A. MEKANISME PENYAKIT DEFISIENSI IMUN

1. DEFINISI DEFISIENSI IMUN

Defisiensi imun atau immunodefisiensi ialah fungsi system imun yang menurun atau tidak berfungsi dengan baik. Defisiensi imun muncul ketika satu atau lebih komponen system imun tidak aktif, kemampuan system imun untuk merespon pathogen berkurang pada baik golongan muda dan golongan tua . Secara garis besar defisiensi imun dibagi menjadi dua golongan, yaitu defisiensi kongenital dan defisiensi imun dapatan.

1. Defisiensi imun congenital Difesiensi imun congenital atau defisiensi imun primer disebabkan oleh kelainan respon imun bawaan yang dapat berupa kelainan dari system dan komplemen atau kelainan dalam deferensiasi fungsi limfosit. 2. Defisiensi imun dapatan Defisiensi imun dapatan disebabkan oleh berbagai faktor antara lain infeksi virus yang dapat merusak sel limfosit, malnutrisi, penggunaan obat- obat sitotoksik dan kortikosteroid, serta akibat penyakit kanker seperti pengakit Hodgkin, leukemia, myeloma, limfositik kronik dal lain-lain. Defisiensi Imun muncul ketika satu atau lebih komponen sistem Imun tidak aktif, Difisiensi imun juga dapat didapat dari chronic granulomatus disease (penyakit yang menyebabkan kemampuan fagosit untuk menghancurkan fagosit berkurang), contohnya: Aids dan beberapa tipe kanker.

2. PEMBAGIAN DEFESIENSI IMUN Defisiensi imun dibagi menjadi tiga, yaitu ;

A. Defisiensi imun non spesifik

B. Defisiensi imun spesifik

1. Defisiensi Komplemen : a. kongenital b. fisiologik c. didapat 2. Defisiensi Interferon dan lisozim a. Defisiensi Interferon kongenital b. Defisiensi Interferon dan lisozim didapat 3. Defisiensi Sel NK a. Defisiensi kongenital b. Defisiensi didapat 4. Defisiensi Sistem Fagosit a. Defisiensi Kuantitatif b. Defisiensi Kualitatif

1. Defisiensi Kongiental atau primer a. Defisiensi sel B : infeksi rekuren oleh bakteri berupa gangguan perkembangan sel B. b. Defisiensi sel T : kerentanan meningkat terhadap virus jamur dan protozoa . 2. Defisiensi Imun fisiologik a. Kehamilan b. Usia tahun pertama c. Usia lanjut

C. Defisiensi imun didapat atau sekunder

Defisiensi ini mengenai fungsi fagosit dan limfosit yang dapat terjadi akibat infeksi HIV, malnutrisi, terapi sitotoksik dan lainnya. Defisiensi imun sekunder dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi oportunistik. 1. Infeksi Infeksi dapat menimbulkan defisiensi imun. Jumlah sel T dalam sirkulasi dan respons limfosit terhadap antigen dan mitogen menurun. Pada beberapa keadaan, infeksi virus dan bakteri dapat menekan system imun. 2. Obat, trauma, tindakan kateterisasi, dan bedah Obat sering menimbulkan defisiensi sekunder. Tindakan kateterisasi dan bedah dapat mnimbulkan imunokompromais. Imunukomromais adalah ketidakmampuan untuk menghasilkan respon imun yang normal . 3. Penyinaran Penyinaran dosis tinggi menekan seluruh jaringan limfoid, sedangkan dosis rendah dapat menekan akticitas sel Ts secara selektif. 4. Penyakit berat Defisiensi imun didapat bisa terjadi akibat berbagai penyakit menyerang jaringan limfoid seperti penyakit Hodgkin, myeloma multiple, leukemia, dan limfosarkoma. 5. Kehilangan immunoglobulin Defisiensi immunoglobulin dapat terjadi karena tubuh kehilangan protein yang berlebihan seperi pada penyakit ginjal dan diare.

3. PENYEBAB DEFISIENSI IMUN

A. Defek genetik Defek gen-tunggal yang diekspresikan di banyak jaringan (misal ataksia-teleangiektasia, defsiensi deaminase adenosin) B. Obat atau toksin Imunosupresan (kortikosteroid, siklosporin)Antikonvulsan(fenitoin) C. Penyakit nutrisi dan metabolic Malnutrisi ( misal kwashiorkor)Protein losing enteropathy (misal limfangiektasia intestinal)Defisiensi vitamin (misal biotin, atau transkobalamin II) Defisiensi mineral (misal Seng pada Enteropati Akrodermatitis) D. Kelainan kromosom Anomali DiGeorge (delesi 22q11) Defisiensi IgA selektif (trisomi 18) E. Infeksi Imunodefisiensi transien Pada campak dan varicella )Imunodefisiensi permanen (infeksi HIV, infeksi rubella kongenital)

4. DIAGNOSA PENYAKIT DEFISIENSI IMUN

A. Antibody microbial dalam pemeriksaan defisiensi imun Penemuan antibody microbial telah digunakan dalam diagnosis infeksi. Antibodi tersebut biasanya ditemukan dengan esai ELISA. Antibody terhadap S. pneumonia ditemukan pada hampir semura orang dewasa sehat, tetapi tidak pada indicidu dengan defisiensi imun primer. Antibodi terhadap antigen virus yang umum juga dapat digunakan bila ditemukan ada riwayat terpajan dengan virus. Demikian juga, bila seseorang diimunosasi, sebaiknya diperiks untuk antibody terhadap toksoid tetanus, toksoid difteri, dan virus polio. Bila kadar antibody rendah, sebaikmua individu dites dengan imunisasi terhadap antigen mati dan responsnya dievaluasi 4-6 minggu kemudian. B. Pemeriksaan in vitro Sel B dapat dihitung dengan flow cytometry yang menggunakan antibody terhadap CD19, CD20, dan CD22. Sel T dapat dihitung dengan flow cytometry yang dapat menggunakan antibody monoclonal terhadap CD23 atau CD2, CD5, CD7, CD4, dan CD8. Tes in vitro dilakukan dengan uji fiksasi komplemen dan fungsi bakterisidal, reduksi NBT atau stimulasi produksi superoksida yang memberikan nilai enzim oksidatif yang berhubungan dengan fagositosis aktif dan aktivitas bakterisidal.

5. CONTOH PENYAKIT DEFISIENSI IMUN

Penyakit defisiensi sebagai salah satu dari sekelompok penyakit yng disebabkan oleh kerusakan system kekebalan. Dimana bagian dari system kekebalan tubuh hilang atau rusak. Akibatnya, kemampuan tubuh untuk melawan infeksi dapat terganggu. Salah satu contohnya adalah : Infeksi Virus HIV Infeksi HIV menyebabkan terganggunya fungsi sistem imun alamiah dan didapat. Gangguan yang paling jelas adalah pada imunitas selular, dan dilakukan melalui berbagai mekanisme yaitu efek sitopatik langsung dan tidak langsung. Penyebab terpenting kurangnya sel T CD4+ pada pasien HIV adalah efek sitopatik langsung .

6. PENGOBATAN PENYAKIT DEFISIENSI IMUN

A. Vaksinasi Pengembangan waksin untuk penyebaran AIDS merupakan penelitian yang di prioritaskan para ahli imunologi. Dewasa ini vaksinasi terhadap AIDS masih belum dapat dikembangkan. B. Terapi potensial AIDS disebabkan oleh berbagai virus varian retrovirus HIV yang tergolong virus lenti, oleh karena menimbulkan penyakit dengan perkembangan lambat. Virus merupakan virus RNA yang memiliki enzim unik, reverse transciptase yang diperlukan untuk sintesis dsDNA spesifik dari genom viral RNA. DNA baru diintegrasikan dalam genom sel terinfeksi dan banyak yang tetap laten dalam sel. C. Pemberian globulin gama Globulin gama diberikan kepada penderita dengan defisiensi Ig tertentu (tidak pada defisiensi IgA) D. Pemberian sitokin Pemberian infuse sitokin seperti IL-2, GM-CSF, M-CSF, dan IFN-y kepada subyek dengan penyakit tertentu. E. Transfuse Transfuse diberikan dalam bentuk neutrofil kepada subyek dengan defiesiensi fagosit dan pemberian transfeksi dengan gen adonesin deaminase (ADA) untuk mengobati ACID. F. Transplantasi Transplantasi timus fetal atau stem cell dari sumsum tulang dilakukan untuk memperbaiki kompetensi imun.

B. MEKANISME PENYAKIT AUTOIMUN

1. DEFINISI DARI AUTOIMUN Autoimun adalah kondisi di mana sistem kekebalan tubuh diserang oleh tubuh. Ketika tubuh merasakan bahaya dari virus atau infeksi, sistem imun menghalau dan menyerangnya. Kondisi ini disebut sebagai respons imun. Penyakit autoimun ini berkembang ketika sistem imun atau kekebalan tubuh Anda salah dalam menilai sel sehat yang ada dalam tubuh, dan malah menganggap sel sehat tersebut sebagai zat asing. Akibatnya, tubuh Anda mulai memproduksi antibodi yang akan menyerang dan merusak sel sehat dalam tubuh Anda tersebut.

Sistem kekebalan pada keadaan tertentu tidak mampu bereaksi terhadap antigen yang lazimnya berpotensi menimbulkan respon imun. Keadaan tersebut disebut toleransi kekebalan (immunological tolerance) dan terjadi melalui beberapa mekanisme, yaitu : 1. Deleksi klonal, yaitu eliminasi klon (kelompok sel yang berasal dari satu sel) limfosit,terutama limfosit T dan sebagian kecil lmfosit B, selama proses pematangan . 2. Anergi klon, yaitu ketidakmampuan klon limfosit menampilkan fungsinya . 3. Supresi klon, yaitu pengendalian fungsi “pembantu” limfosit T . Pada umumnya, sistem kekebalan dapat membedakan antar antigen diri (self antigen) dan antigen asing atau bukan diri (non-self antigen).

2. PEMBAGIAN SECARA GOLONGAN

Penyakit autoimun terdiri dari dua golongan, yaitu :1. Khas organ (organ specific) dengan pembentukan antibodi yang khas organ; contoh : Thiroiditis, dengan auto-antibodi terhadap tiroid; Diabetes Mellitus, dengan auto-antibodi terhadap pankreas; sclerosis multiple, dengan auto-antibodi terhadap susunan saraf; penyakit radang usus, dengan auto-antibodi terhadap usus. 2. Bukan khas organ (non-organ specific), dengan pembentukan auto antibodi yang tidak terbatas pada satu organ. Contoh : Systemic lupus erythemathosus (SLE), arthritis rheumatika, vaskulitis sistemik dan scleroderma, dengan auto-antibodi terhadap berbagai organ.

3. PENYEBAB REAKSI AUTOIMUN

Reaksi autoimun dapat dicetuskan oleh beberapa hal : 1. Senyawa yang ada di badan yang normalnya dibatasi di area tertentu dan dilepaskan ke dalam aliran darah. 2. Senyawa normal di tubuh berubah, misalnya, oleh virus, obat, sinar matahari, atau radiasi. 3. Senyawa asing yang menyerupai senyawa badan alami mungkin memasuki badan. Sistem kekebalan tubuh dengan kurang hati-hati dapat menjadikan senyawa badan mirip seperti bahan asing sebagai sasaran.

4. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYAKIT AUTOIMUN

Sifat autoantigen

Faktor genetik

Kelamin (gender)

Obat-obatan

Infeksi virus

faktor Umur

5. GEJALA DARI PENYAKIT AUTOIMUN

Ada lebih dari 80 penyakit yang digolongkan penyakit autoimun dan beberapa di antaranya memiliki gejala awal yang sama, seperti: 1. Kelelahan 2. Pegal otot 3. Ruam kulit 4. Demam ringan 5. Rambut rontok 6. Sulit konsentrasi 7. Kesemutan di tangan dan kaki Meski menimbulkan beberapa gejala awal yang sama, masing-masing penyakit autoimun tetap memiliki gejala spesifik .

6. DIAGNOSA PENYAKIT AUTOIMUN

Selain belum diketahui penyebab pastinya, penyakit autoimun juga menunjukkan gejala yang sulit untuk didiagnosis. Berikut beberapa jenis pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis penyakit autoimun Anda, meliputi :

  • Peninjauan gejala dan pemeriksaan fisik
  • Tes Antinuclear antibody, mengetahui aktivitas antibodi yang menyerang tubuh
  • Tes autoantibodi, mendeteksi karakteristik antibodi dalam tubuh
  • Tes darah lengkap, menghitung jumlah sel darah merah dan sel darah putih
  • Tes C-Reactive protein, mendeteksi peradangan dalam tubuh
  • Tes sedimentasi eritrosit, mengetahui tingkat keparahan peradangan yang terjadi di dalam tubuh

7. CONTOH PENYAKIT DAN GANGGUAN AUTOIMUN

1. Diabetes Mellitus Tipe 1

Diabetes tipe 1 adalah kondisi yang ditandai dengan tingginya kadar gula atau glukosa dalam darah. Berbeda dari diabetes tipe 2 yang terjadi akibat resistensi insulin atau karena sel tubuh menjadi kebal atau tidak responsif terhadap insulin, diabetes tipe 1 terjadi ketika tubuh kurang atau sama sekali tidak memproduksi insulin. Akibatnya, penderita diabetes tipe 1 memerlukan tambahan insulin dari luar.

2. LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK

Lupus Eritematosus Sistemik (LES) adalah penyakit autoimun yang ditandai dengan adanya inflamasi tersebar luas, mempengaruhi setiap organ atau sistem dalam tubuh. Penyakit ini berhubungan dengan deposisi autoantibodi dan kompleks imun, sehingga mengakibatan kerusakan jaringan 1. Penyakit autoimun kronis yang dapat menyebabkan peradangan di beberapa bagian tubuh, termasuk kulit, sendi, ginjal, hingga otak. Lupus bisa dialami oleh siapa saja, tetapi lebih sering dialami oleh wanita.

TERIMA KASIH :)